Sukseskan Milad 40 tahun Darunnajah

28 02 2012

Sukseskan Milad 40 tahun Darunnajah

شاركونا في إنجاح الذكرى الأربعين سنة لتأسيس معاهد دار النجاح الإسلامية
Let’s Celebrate our 40th Anniversary Together!

Dirintis sejak 1940
Didirikan sejak 1974





Biografi KH Abdul Manaf Mukhayyar

20 02 2012

Mendirikan PB Makmur

Perusahaan Bangunan (PB) Makmur bermula dari sebuah kios kecil. Tanahnya dari lahan hutan yang kemudian dijadikan pangkalan andong (delman). Letatnya strategis karena berada di tikungan rel kereta. PB Makmur dibangun oleh Abdul Manaf dari nol. Dia sendiri yang merintis, memasang telepon hingga menjadi besar setelah mendapat kontrak untuk menjadi agen semen Gresik di Jakarta. Saat itu, tahun 1950-an, perusahaan pribumi yang bisa memasang telepon masih sangat jarang. Abdul Manaf mengendalikan perusahaan ini bersama abangnya, Abdulrahim dan Abdul Karim.

Pada mulanya, PB Makmur berjualan dedak (bekatul untuk makanan kuda), buntil, kombongan (campuran dedak, rumput, dan air). Kalau ada gerobak datang, diberinya air dan dedak. Dari jasa ini, ia mendapat uang 5 sen.

Komoditi yang mulai dijual adalah bambu. Seiring berjalannya waktu, usaha PB Makmur makin besar. Terbukti dari keuntungan berjualan bambu saja, Abdul Manaf bisa membeli tanah di Sukabumi Ilir. Belakangan terlihat Abdul Manaf memang memiliki bakat mengelola perusahaan. Ia bisa membesarkan usahanya dan menambah komoditi yang dijual yaitu papan, pasir, batu kali, hingga akhirnya semen. PB Makmur juga membuka pabrik buis beton dan ubin. Letaknya yang strategis karena dekat dengan stasiun Palmerah, membuat usaha material milik Abdul Manaf mendapat kepercayaan menjadi agen semen Gresik.

Setelah usahanya besar, Abdul Manaf tidak lupa dengan niatnya untuk mendirikan lembaga pendidikan agama dan membangun sekolah untuk orang miskin. Dia juga tidak melupakan jasa Haji Muhammad Kemped dan ayahnya Haji Mukhayyar yang disebutnya sebagai penyumbang terbesar PB Makmur.

Seberapa besar keuntungan PB Makmur yang disumbangkan oleh Abdul Manaf untuk pembangunan lembaga pendidikan? Hasyim Munif, mantan karyawan PB Makmur yang mengurus administrasi menyebutkan, setiap semen yang dijual, Abdul Manaf menyisihkan Rp 1 untuk dipakai sebagai dana sosial. Saat itu (tahun 1960 an), harga satu sak semen adalah 14 rupiah 7 ketip 5 sen. Sebagai perbandingan, saat membeli tanah di Ulujami (kini lokasi Pondok Pesantren Darunnajah) pada tahun 1960 H. Abdul Manaf membayar harga Rp 5 per meter persegi tanah. Dengan kata lain, keuntungan lima zak semen bisa membeli satu meter persegi tanah di Ulujami waktu itu.

Tahun 1964, bersamaan dengan penggusuran kawasan Senayan untuk kompleks DPR/MPR, usaha dagang PB Makmur pun ikut tergusur. Kantor PB Makmur akhirnya dipindah ke Sukabumi Ilir, Kebayoran Lama. Bidang usahanya tidak berubah. PB Makmur masih memproduksi ubin, buis beton dan menjual bahan material lainnya.

Cara Berdagang Abdul Manaf

Dalam berdagang, Abdul Manaf sangat memegang teguh prinsip-prinsip Islam seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Nilai-nilai kejujuran, tidak memakai sistem riba, menjaga amanah dan kepercayaan, serta prinsip saling membantu dan tidak mengejar keuntungan semata adalah hal-hal yang dipegangnya secara teguh.

Beliau pernah didatangi oleh seorang kenalan yang minta diajari cara berdagang. Orang tersebut mengeluh ingin berdagang buis beton tapi tidak tahu cara membuatnya.

Orang tersebut diminta datang pagi-pagi sehabis subuh bila ingin belajar. Benar saja, orang tersebut kemudian tiap pagi datang dan diajari oleh Abdul Manaf dan karyawannya selama beberapa hari. Setelah mahir, orang tersebut menghadap Abdul Manaf dan berkata sudah bisa membuat buis beton tapi tidak bisa menjualnya. Beliaupun menyanggupi untuk menjualnya.

Rupanya sang kenalan masih punya kendala. Dia tidak punya modal untuk membeli barang cetakan buis beton. Menghadapi hal ini, Abdul Manaf tidak marah atau kesal. Orang tersebut justru ditawari untuk memakai alat cetakan yang ada di rumahnya.

Dengan cara tersebut, Abdul Manaf tidak saja memberi peluang orang lain untuk berusaha, tetapi juga membuka jaringan bisnis baru karena yang bersangkutan di kemudian hari menjadi rekan bisnisnya. Beliau tidak takut persaingan. Menurutnya rejeki setiap orang itu sudah diatur Allah.

Mengenal Model Pendidikan Pesantren

Di tengah kesibukannya menjalankan bisnis, Abdul Manaf tak melepas perhatian terhadap dunia pendidikan. Selain mengajar di Madrasah Islamiyah, ia terus berkomunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat yang bergiat dalam pendidikan Islam.

Lewat pondok modern Darunnajah, Abdul Manaf menumpahkan ide dan cita-cita perjuangannya untuk mencetak kader ulama dan melakukan taffaquh fiddin.

Perkenalan Abdul Manaf dengan dunia pesantren bermula ketika mengenal Haji Latif, seorang pemborong jalan dari Kuningan, Karet Tengsin. Haji Latif mendengar Gontor dari bosnya Haji Rais yang kepala DPU Jakarta Raya. Kedua orang tersebut sudah mengirim anaknya untuk belajar ke Gontor. Kepada Abdul Manaf, Haji Latif menyarankan agar menyekolahkan anaknya ke Gontor.

Di Gontor itulah, Abdul Manaf merasakan kecocokan dengan sistem pendidikan yang pernah dialaminya di Jamiatul Khair. Ia juga melihat anak-anak yang dikirim ke Gontor menunjukkan kualitas yang bagus. Sehingga semua anak laki-lakinya pun dikirim ke Gontor untuk belajar.

Walau demikian, Abdul Manaf tidak mengakui ide pendirian pondok pesantren datang dari dirinya. Ia justru menduga rencana mendirikan pesantren justru datang dari Mahrus Amin dan kawan-kawannya yang mengelola Raudhatul Athfal sejak tahun 1961 di Petukangan. Raudhatul Athfal ini kemudian berubah nama menjadi Balai Pendidikan Darunnajah dan menyelenggarakan pendidikan taman kanak-kanak dan madrasah ibtidaiyah. Sedangkan ide pendirian pesantren diyakini atas saran Kiai Imam Zarkasyi, pengasuh Pondok Modern Gontor waktu itu. Hal ini dikuatkan oleh peran alumni-alumni Gontor seperti Mahrus Amin, Hafidz Dasuki, Hasyim Munif, bahkan Nurcholis Madjid dan Abdullah Syukri Zarkasyi (kini pengasuh Pondok Modern Gontor) pada masa awal perintisan Darunnajah. Mereka selain mengajar di Darunnajah Petukangan juga pulang-pergi ke Ulujami yang saat itu masih berupa kebun yang ditanami pohon jinjing.

Membeli Tanah Di Ulujami

Madrasah Islamiyah di Petunduhan, Palmerah, pada tahun 1960 dibongkar karena lokasinya terkena proyek perluasan kompleks Asian Games IV. Tanah yang menjadi lokasi berdirinya madrasah itu diganti rugi oleh pemerintah sekitar Rp 90.000, tidak sampai Rp 100.000,00. Sedangkan bangunannya dibongkar.

Agar cita-citanya tak terhenti, Abdul Manaf mengajak bermusyawarah kawan-kawannya di PB Makmur. Disepakati uang ganti rugi itu dibelikan tanah, Abdul Manaf membeli tanah di kampung Peninggaran, Ulujami. Saat itu wilayah Ulujami secara administratif termasuk wilayah Kecamatan Ciledug, Kabupaten Tangerang.

Dengan harga Rp 5 per meter persegi, uang ganti rugi tersebut tidak mencukupi untuk membeli tanah seluas 5 hektar seperti yang ditempati Pesantren Darunnajah saat ini. Uang Rp 90.000 tersebut hanya cukup untuk membeli tanah kurang dari separuh yang diinginkan. Kekurangannya kemudian ditutupi dari uang PB Makmur dan sumbangan berbagai pihak.

Mendirikan YKMI

Sesudah membeli tanah di Ulujami, Abdul Manaf mendirikan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI).

Pengurus YKMI diketuai H. Muhammad Kosim dengan bendahara H. Abdul Manaf dan sekretarisnya Kamaruzzaman. Meski sebagai penggagas ide, posisi Abdul Manaf sebagai bendahara barangkali didasari oleh statusnya sebagai penyandang dana lewat PB Makmur dan kesibukannya sebagai pebisnis yang tidak memungkinkannya mengurusi aktivitas yayasan secara penuh.

Walau sudah terbentuk YKMI, rupanya yayasan ini tidak secara implisit hendak mendirikan pesantren. Tujuan YKMI adalah mengayomi kegiatan pendidikan untuk menyejahterakan masyarakat Islam di Tanah Air. Sangat terang, tujuan yayasan sangat luas cakupannya dan tidak sekadar menyelenggarakan pendidikan pesantren semata.

Pembentukan YKMI disambut positif tokoh-tokoh masyarakat Petukangan dan Ulujami. Dukungan antara lain dari H. Abdillah Amin, H. Satiri (Ulujami), H Sidik Makmun, H. Sidik, H. Satiri (Petukangan), Abbas dan lain-lain. Bahkan H. Abdillah Amin menyerahkan lembaga pendidikan Raudhatul Athfal di Petukangan untuk bergabung dengan YKMI. Raudhatul Athfal lantas dipimpin oleh Mahrus Amin, alumni KMI Gontor yang mulai menetap di Jakarta sejak 2 Februari 1961.

Raudhatul Athfal yang menyelenggarakan pendidikan setingkat ibtidaiyah, dirasa tidak cocok dengan namanya yang berarti taman kanak-kanak, padahal dibuka juga madrasah ibtidaiyah. Akhirnya pada 1 Agustus 1961, Raudhatul Athfal ini berubah nama menjadi Balai Pendidikan Darunnajah.

Membangun Gedung Madrasah Di Ulujami

Seiring berjalannya waktu, Abdul Manaf makin mantap untuk memilih model pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang akan dibangun di Ulujami. Selain berkonsultasi dengan rekan-rekannya, Abdul Manaf juga meminta masukan kepada gurunya di Jamiatul Khair, Ustadz Abdullah Arfan. Setelah membeli tanah di Ulujami, mantan gurunya itu ditemui.

”Apa tujuan ente membuat sekolah di sana?” tanya ustadz Abdullah Arfan. ”Saya membuat madrasah itu dengan tujuan untuk madrasah Islamiyah ke pendidikan agama Islam, bukan untuk umum, tidak. Khususnya terutama untuk taffaquh fiddin,” jawab Abdul Manaf.

Tak lupa saat menunaikan ibadah haji yang pertama kali pada 1962, Abdul Manaf meminta nasihat pada ulama yang ditemui di sana. Di Mekkah, ia bertemu dengan Kiai Abdullah Syafii dan ditanya maksud kedatangannya. ”Saudara ada apa kemari, ada maksud apa?”. Ditanya demikian, Abdul Manaf lantas menerangkan cita-cita dan usaha yang sudah dilakukannya dalam membangun lembaga pendidikan Islam. Saat itu Kiai Abdullah Syafii memberi saran sebagai berikut:

”Sebelum kerja membuat pesantren harus ziarah dulu ke Mekah ini, ke Ka’bah ini!,” ujar Kiai Abdullah Syafii menegaskan. Ia lantas menyambung. ”Insya Allah tujuan kita kalau baik, dikabulkan!,” ujar Abdul Manaf menirukan pesan sang kiai.

Sekembalinya dari Mekkah pada tahun 1962, Abdul Manaf membangun sebuah madrasah di tanah yang dibelinya di Ulujami. Madrasah itu berukuran 30×11 meter dan terdiri dari 4 lokal. Bangunan itu semi permanen, berdinding batu dan berlantai ubin. Ternyata walaupun sudah berdiri, madrasah itu tidak berhasil menarik minat murid untuk belajar. Lokasi yang jauh, sulitnya transportasi dan kurangnya simpati masyarakat adalah hal-hal yang menjadi sebab madrasah itu belum mampu menarik minat.

Di sisi lain, suasana politik menjelang peristiwa G30S/PKI sempat merepotkan pengurus YKMI mewujudkan rencananya. Pada 1963, sekitar 30 orang menyerobot dan mencangkul tanah di Ulujami, namun akhirnya berhasil diatasi.

Tiadanya minat murid untuk belajar di madrasah yang dibangun di Ulujami bertolak belakang kondisinya dengan madrasah Darunnajah di Petukangan. Balai Pendidikan Darunnajah di Petukangan berkembang pesat dan terkenal.

Tiga kali berturut-turut siswa dari Darunnajah Petukangan meraih juara dalam MTQ yang diselenggarakan Al Azhar, sehingga tidak boleh mengikuti lagi musabaqah berikutnya. Demikian pula drumband dan orkes Darunnajah juga sangat dikenal saat itu. Bahkan pada tahun 1964, di Petukangan juga didirikan Tsanawiyah dan TK Darunnajah.

Madrasah di Petukangan lebih maju karena secara ekonomi masyarakat Petukangan lebih makmur saat itu dibanding Ulujami. Lokasinya yang dekat dengan Ciledug dan berada di pinggir jalan raya.

Sebetulnya usaha mendatangkan santri ke Ulujami sudah dicoba pada tahun 1963-1965. Antara tahun 1963-1964, ada 9 santri mukim di Petukangan. Mereka adalah murid Ibtidaiyah Darunnajah dan beberapa murid SMP dari luar Darunnajah setiap sore hingga malam hari dibawa ke Ulujami untuk belajar mengaji. Dibanding jumlah murid di Petukangan yang sekitar 200 orang, jumlah santri di Ulujami memang sangat sedikit.

Pada 1969 Mahrus Amin meminta izin memindahkan gedung Madrasah Ibtidaiyah yang sudah dibangun di Ulujami pada 1962 ke Petukangan untuk kegiatan belajar Madrasah Tsanawiyah Petukangan, Abdul Manaf tak menolaknya. Saat itu, Abdul Manaf sangat merindukan pesantren Darunnajah terwujud. Mahrus juga sudah terlihat memiliki kemampuan mengelola madrasah di Petukangan dan bercita-cita membangun pondok pesantren. Tak heran bila, Mahrus yang sudah menjadi anak menantunya (menikah dengan putri pertama H. Abdul Manaf, Suniyati, pada 30 September 1965) menjadi kader kepercayaan karena bisa menerjemahkan visi Abdul Manaf. Hal lain yang barangkali mendorongnya menyetujui usulan itu adalah kondisi gedung madrasah di Ulujami yang karena tidak digunakan, menjadi kurang terawat. Bahkan pernah suatu ketika gedung madrasah ini roboh.

Sejak pertengahan 1960-an itu, Mahrus memang mendapat peran sentral di Darunnajah. Kepengurusan YKMI yang tidak aktif diisi oleh Mahrus dan kawan-kawan dengan tindakan nyata. Salah satunya dengan usaha deklarasi pendirian pesantren di Petukangan pada peringatan Sewindu Darunnah 30 Maret 1969 yang disaksikan oleh Dr. Mohammad Natsir, Nurcholis Madjid, dan tokoh-tokoh masyarakat. Ketika itu Abdul Manaf menjabat sebagai ketua umum YKMI.

Pranala Luar
(Indonesia) http://darunnajah-cipining.com/biografi-pendiri-pondok-pesantren-darunnajah-k-h-abdul-manaf-mukhayyar/
(Indonesia) http://darunnajah3.com/sekilas-perjuangan-kh-abdul-manaf-mukhayyar-pendiri-pesantren-darunnajah/








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.