5 Pola Pikir dalam Pesantren

19 05 2016

1. Fikrah: pola pikir, idiologi
2. Sibghah: agama, fitrah
3. Khittah: garis besar perjuangan
4. Insyithoh: gerakan, kegiatan
5. Tathbiq: evaluasi
POACE : Pr
1. Programming .

2. Organizing

3. Actuating

4. Controlling

5. Evaluating





MEMIMPIN PESANTREN

26 03 2016

https://ceritagontor.wordpress.com/2014/10/05/pesan-dan-nasehat-dr-kh-abdullah-syukri-zarkasyi-ma-2/

 

Pesan dan Nasehat DR. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA

 

Anak-anakku sekalian, yang tidak bisa ditutupi adalah kebahagiaan. ana sa’id biliqôi abnâi al- indonisi al-maujud hinâ. Ini merupakan sebuah pertemuan yang kami sengaja untuk ikut mengawal, mendo’akan dan memantau anak-anak Gontor dan umat ini seluruhnya hingga bapak Kedutaan Besar Republik Indoensia di Kairo. Dengan harapan agar kita semua memiliki prestasi, gerak dan berkah dalam perjuangan kita. Amin.

 

Saya di Gontor sebagai Pimpinan Pondok, memimpin bukan hanya sekedar menggerakkan dan bukan sekedar manager. Serta bukan juga sebatas melaksanakan program pendidikan di Gontor. Saya bukan sekedar menjadi pimpinan administratif Gontor, saya pun bukan sekedar pimpinan akademisi. Tapi saya memimpin, mendidik, membela dan memperjuangkan Gontor.

 

Dalam perjalanan saya yang kurang lebih dua puluh lima tahun memimpin Gontor, merupakan sebuah suka duka dan sebuah keasyikan dalam berjuang dan memperjuangkan diri. Sehingga guru saya, Syeikh Muhammad Al-Ghazali berkata, taharrok fainna fil harokati barokah. Maka disinilah letak peran dan fungsi seseorang ditentukan oleh satu idealisme yang jelas. Akidah kita yang benar dan idealisme yang jelas serta daya juang yang baik dan benar, inilah harga seorang manusia. Tanpa itu, seperti yang dikatakan guru saya, anta zabalah. Min ghoiri aqîdah wal amânah, al-mustaqbal al-ba’id. Wa ‘indanâ majhud fardiyyan aw jama’iyyan. Hâ huwa dzâ qîmatul insân. Begitulah beliau berulang-ulang kali berbicara di hadapan saya di masjid fusthot dan di rumah beliau, hingga masuk dan meresap dalam diri saya.

 

Yang kedua ayah saya ternyata juga memiliki seorang guru, seorang pejuang dari Tunis namanya Muhammad Al-Hasyimi. Ia merupakan pejuang Tunis yang pindah ke Singapore, kemudian diusir hingga pindah ke Solo. Beliau inilah yang mengajarkan mahfûdzot dan filsafat hidup kepada ayah saya. Sehingga ayah saya terkena setruman beliau dan menjadi mujahid yang keras. Dari filsafat hidup dan akidah yang benar serta daya juang yang semakin lama bertambah meningkat, maka bagaimana cara kita meningkatkan diri kita. Untuk itu, dengan idealisme yang tinggi kita bisa menjadi mujahid. Dengan daya jihad yang sedemikian rupa serta cita-cita yang tinggi, kita akan menjadi seorang manusia yang pekerja keras. Keras berpikirnya, keras bekerjanya, keras berdo’anya dan keras kita bersabar. Empat keras.

 

Keras berpikir, selalu memikirkan pondok terus tidak pernah berhenti. Maka sekarang pun juga, pengasuh-pengasuh pondok pesantren cabang agar selalu mengambil inisiatif. Maka, saya wajibkan dalam sehari lima belas pekerjaan yang dikerjakan oleh pengasuh pondok cabang, direktur KMI dan yayasan. Mereka melaporkan kepada saya melalui sms enam belas pekerjaan yang harus dikerjakan setiap hari.

 

Kita harus banyak bergerak. Taharrok fainna fil harokati barokah. Dari sinilah maka kita selalu bergerak dan menggerakkan, hidup dan menghidupi, berjuang dan memperjuangkan. Dengan gerakan-gerakan yang total, bukan hanya sekedar pelajaran. Saya menggerakkan Gontor dari seluruhnya, jikalau saya mengambil kebijakan antara dua puluh lima sampai tiga puluh kebijakan dalam satu hari, maka pengasuh-pengasuh pondok cabang dan sebagainya enam belas kebijakan, sehingga semua elemen akan tersentuh. Baik pengasuhan, pramuka, pelajaran sore, olahraga, sepak bola, seni dan apapun juga akan tersentuh oleh kita. Kalau tidak satu hari, maka dua hari akan tersentuh.

 

Totalitas gerakan dengan dinamika yang sangat tinggi di Gontor itulah yang mendidik kalian. Sehingga pola pikir, sikap, tingkah laku dan mentalitas kalian mempunyai karakter khusus Gontor. Seperti yang dikatakan Pak Sahal, “Di jidadmu ada stempel Gontor”. Diakui ataupun tidak diakui, Nurcholis Majid seorang Doktor tamatan Chicago, setelah beliau mendapatkan penghargaan doctor honoris causa, beliau mengatakan ini semua dari Gontor. Bahkan ketika beliau hendak meninggal masih mimpikan ayah saya. Jadi betapa ta’tsîr harokah Gontori itu masuk ke dalam diri santri-santrinya.

 

Kalau tidak ada niat di Gontor untuk mendapatkan pendidikan, sentuhan, setruman dan ilmu, maka dia tidak akan mendapat apa-apa pun juga. Karena innamal a’mâlu binniyyât. Di Kairo jika tidak ada niat untuk meningkatkan diri baik akademis dan prestasi apapun, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa.

 

Pertemuan saya dengan Syeikh Muhammad Al-Ghazali di Wusthot (Muhandisin), disitulah saya bertemu dengan orang Palestina, South Afrika, Thailand dan lain sebagainya. Ada beberapa orang garis keras. Dan ada juga dari teman-teman saya yang bergerak tidak hanya di bidang politik dan keilmuan.

 

Dari sinilah saya bergerak, sehingga ketika saya di Ciputat filsafat hidup saya keluar. “Kecil dan besar tidak masalah, yang penting mainnya”. Dari sinilah kita memainkan peran dan fungsi seseorang. Saya memainkan peran dan fungsi saya sebagai seorang kyai yang tidak ada arti apa-apa. Kedudukan tidak penting, yang terpenting adalah bisa memainkan peran dan fungsi. Sebagai Duta Besar,  Luar Biasa. Sekarang saya baru mengetahui, ada Duta Besar yang sangat terkesan oleh saya. Satu adalah Menteri Luar Negeri, Bapak Hasan Wirayuda. Dan kemudian Drs. A.M. Fachir ini. Karena memikirkan masyarakat Indonesia dan juga masyarakat Nasional. Beliau ini membuat seminar yang dihadiri oleh sekian banyak orang. Berapa ribu pound yang keluar. Nyatanya seorang Duta Besar bisa mengeluarkan uang untuk kepentingan kita, mengapa pada zaman dahulu tidak?

 

Itulah bagaimana memainkan fungsi dan peran sebagai Duta Besar, sehingga gaungnya luar biasa sekali. Syeikhul Azhar, Rektor Azhar dan lain sebagainya datang. Luar biasa. Begitulah menggerakkan dunia. Maka terpikirkan oleh saya, bagaimana menggerakkan dunia dari Gontor. Saya membuat acara peringatan 80 tahun Gontor. Saya undang Presiden, Wakil Presiden, Menteri-menteri dan Syeikhul Azhar. Maka dalam bahasa Pak Sahal, njajal awak (mencoba kemampuan diri). Sejuah mana saya bisa berperan dan berfungsi sebagai Pimpinan Pondok di dalam meneguhkan dan melaksanakan pendidikan di Pondok Modern Gontor.

 

Baiklah, inilah perkembangan Gontor, sementara itu kita sudah membeli kelapa sawit sebanyak 500 ha di Jambi. Alhamdulillah. Ini untuk masa depan Gontor. Sekarang yang sudah mendaftarkan diri untuk menjadi kader pondok 36 orang. Ada beberapa orang sudah mengabdi di luar, sekarang datang ke Gontor dengan istrinya dan anaknya. Jadi Gontor berkahnya luar biasa. Guru Gontor status sosial yang tinggi di masyarakat, khususnya di Ponorogo. Status sosial ini penting dan saya buat sedemikian rupa. Kesejahteraannya pun juga kami pikirkan. Bahkan sudah bisa menyekolahkan dan mengawinkan anak-anaknya.

 

Sekarang ada Gontor 1, Gontor 2, Gontor 3 di Kediri, Gontor 4 (putri 1), putri 2, putri 3, putri 4, putri 5 di Kediri, Gontor 5 di Banyuwangi, Gontor 6 di Magelang, Gontor 7 di Kendari, Gontor 8 di Way Jepara, Gontor 9 di Kalianda, Gontor 10 di Aceh, Gontor 11 di Suit Air. Dan satu Gontor lagi yang paling baru yaitu di Jambi. Karena bupatinya akan memberikan sejumlah tanah, sehingga saya harus datang ke Jambi sendiri untuk memilih tanahnya dan membangun masjid. Sebab yang akan mengelola 500 ha kelapa sawit harus guru Gontor sendiri yang memiliki pos di situ. Kita juga sedang ditawari 1000 ha untuk kelapa sawit dengan harga enam ratus ribu Rupiah per/ha. Ini kan murah sekali.

 

Ketika saya datang ke Jambi ingin ketemu Bupati, ternyata Bupati itu mendapatkan Bintang Melati Pramuka di Jatinangor bersama saya yang disematkan langsung oleh Bapak Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Maka saya mendapatkan wakaf 100 ha kelapa sawit dan 10 ha-nya untuk pendirian pondok pesantren.

 

Jadi begitulah ceritanya, saya mencoba kemampuan diri saya sebagai pimpinan pondok. Pertanyaannya, apakah dengan banyaknya pondok pesantren cabang apakah Gontor bisa mempertahankan kualitasnya? Gontor itu lembaga pendidikan. Jikalau Dr. Hidayatullah, MA, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M. Phil, Ust. Suharto dan doktor-doktor lainnya itu berkumpul di Gontor dan tidak membuka cabang apa dijamin Gontor akan hebat? Nanti dulu. Sedangkan jumlah santrinya hanya 3000, 2000 atau 1000, apakah dijamin akan hebat?

 

Dalam sejarah dunia pesantren organisasi apapun permasalahan-permasalahan hidup akan ada. Antara masalah keluarga, guru, santri, masyarakat dan lain sebagainya akan terjadi. Jikalau orang-orang potensial itu berkumpul di dalam satu tempat dan tidak ada pemersatu yang tidak bisa mengatur tata kehidupan itu dengan dengan baik, akan terjadi konflik. Dan Gontor sudah banyak mengalami konflik-konflik sepeti itu.

 

Karena banyaknya pengalaman, konflik-konflik yang terjadi antar keluarga, guru, masyarakat dan lain sebagainya, maka saya mengusulkan kepada badan wakaf untuk membuat Gontor cabang. Bagaimana caranya? Gampang. Di Gontor itu 850-900 anak kelas 6 yang keluar dari gontor setahunnya. Dan antara 80-200 S1 keluar dari Gontor. Kelas 6, daripada setahun mengabdi, mengapa tidak mengabdi kepada pondok pesantren cabang dan kepada pondok pesantren Gontor. Maka, setiap tahun saya ambil kurang lebih sekitar 300-400 anak kelas 6 yang mumtaz, yang baik-baik dari segi aqliyahnya dan keilmuannya. Begitu juga dengan S1 yang bagus-bagus saya tugaskan kepada pondok-pondok pesantren cabang. S1 alumni Gontor itu, adalah orang-orang yang memiliki 7 fungsi. Yaitu wali kelas, wali pramuka, wali konsulat dan lain sebagainya. Ini memiliki penampilan yang prima, ikut berpengalaman dalam bermacam-macam kegiatan. Diantaranya adalah kalian-kalian ini. Dari sinilah maka ketika mereka kami tugaskan ke Kendari, Aceh dan lain sebagainya, luar biasa.

 

Di Gontor saya mendirikan SOP (Standar Operasionil Pelaksanaan Pendidikan), ada standar mutu, ada standar guru dan ada standar pimpinan pondok pesantren. Selalu mengambil inisiatif, bekerja keras, membuat jaringan kerja, memanfaatkan jaringan, bisa dipercaya dalam bidang keuangan dan pekerjaan. Begitulah cara saya membina dan mengendalikan pengasuh-pengasuh cabang. Akibatnya, memang pondok-pondok cabang dari segi etos kerja dan dinamikanya tidak seperti di Gontor, karena juga pengasuh-pengasuhnya pun sedemikian rupa.

 

Ini ibarat Indonesia Jakarta dan Singapore. Singapore itu disiplin di jalan ketat. Buang rokok di jalan tidak ada. Tidak ada yang melanggar lalu lintas, akan tetapi di Jakarta buang rokok seenaknya, melanggar lalu lintas seenaknya. Tapi jika orang Indonesia ketika ke Singapore akan ikut disiplin. Maka anak-anak cabang ketika masuk ke Gontor akan ikut disiplin Gontor, menyesuaikan diri.

 

Anak kelas 1 sampai kelas 5 yang belum pernah ke Gontor kita pindahkan kelas 6-nya ke gontor 1 tahun. Berkumpul dan bersaing dengan anak-anak Gontor yang ada di Gontor. Anak Gontor yang baik-baik kita tugaskan ke pondok-pondok cabang. Jadi kelas 6 itu kita bagi ke Banyuwangi, Kendari dan lain sebagainya. Diantaranya adalah kalian yang kita tugaskan kemana-mana, sebagai uswatun hasanah. Dari sinilah, iklim dan miliu itu sangat standar sekali. Dari bangunannya, disipilinnya dan lain sebagainya. Sampai saat ini pondok pesantren mana yang bisa mengembangkan 16 pondok pesantren cabang. Biayanya bagaimana, gurunya seperti apa, standar operasionilnya bagaimana, memanagenya seperti apa, inikan pertanda bahwa Gontor bisa.

 

Yang kedua, meskipun banyak pondok-pondok pesantren tetapi tertahan system oprasonil dalam nilai dan system.

 

Yang ketiga Gontor dianggap mampu menyelesaikan beberapa permasalahan dan konflik-konflik baik diluar maupun di dalam pondok. Tiga hal ini yang diluar dugaan saya sehingga mereka menghargai Gontor sedemikian rupa. Karena saya bisa menyelisaikan konflik, mengembangkan Gontor sehingga Gontor tetap eksis.

 

Yang terakhir bahwa anak-anak kelas enam yang di Gontor dari pondok-pondok cabang memeliki kesamaan nilai dengan anak-anak yang di Gontor. Ada yang Mumtaz, ada yang Jayyid Jiddan dan tentunya ada yang asfala safilin. Sama dengan anak Gontor itu sendiri. Akan tetapi secara mental dan akliyyah dan Gontoriyyah, ini memang kita tanamkan kepada anak-anak sedemikian rupa. Dan disini jugakan ada anak-anak pesantren cabang Gontor yang datang kesini dan sebagainya, yang ternyata juga baik dan mampu.

 

Demikianlah bercerita tentang cabang Gontor. Dalam rangka memuwudjudkan cita-cita Gontor atas nasihat, saran dan doa Syeikhul Azhar, Syeikh Mahmud Saltun. Beliau berkata “Alfu Gontor fi Indonesia” . Seribu Gontor di Indonesia.

 

Dari situlah anak-anakku sekalian, ini merupakan tantangan dan ujian dan juga merupan sebuah harapan buat saya untuk memerankan dan mengfungsikan saya sebagai kyiai, dan beberapa anak Gontor dalam rangka keumatan yang sedemikian rupa. Maka yang ke Mesir diperbanyak tetapi yang di Mesir diperbaiki.  Yang akan ke Mesir di Kontrol.

 

Dalam peran dan fungsi Gontor Nasional dan juga internasional, merasa bahwa Gontor itu apakah sudah waktunya berperan secara nasional. Yang menasional itu apanya?!, yang menjadi pertanyaan saya sendiri. Maka coba, Gontor itu madzhabnya bukan “fakir qobla anta’zima” tetapi “jarrib walahiz takun aarifan”. Coba !.

 

Menjadi seorang pengurus koperasi pelajar dan kopda meskipun tidak memiliki keterpampillan akan tetapi cobalah!. haruslah secara jujur dan sungguh-sungguh, walaupun tidak miliki keterampilan, mudah saja. Maka untuk seseorang yang meiliki toko bangunan, tidak perlu berpendidikan tinggi dan sekolah, itu sambil mondok saja bisa. Dari sini maka ada keritikan untuk menjadi seorang yang kaya, tidak perlu pergi ke Mesir. Untuk menjadi seseorang yang memiliki puluhan bis tidak perlu pergi ke Mesir. Keterampilan-keterampilan itu mudah dipelajari akan tetapi membina mental dan karakter ini yang tidak mudah. Maka ketika saya diminta untuk berbicara di DPR pusat sana tentang permasalahan pendidikan Indonesia yang terperosok hingga ke urutan 112.

 

Indoneia terpuruk masalah pendidikannya karena tidak mementingkan karakter, mental dan moral. Yang ada hanyalah transformasi Informasi.  Informasi tentang masalah politik dan ekonomi. Akibatnya kondisi di masyarakat rusak. Rumah tangga tidak sempat terpikirkan, anakpun terkena narkoba. Akibatnya rusak. Kitapun yang mendidik di Gontor sedemikian rupa, kadang-kadang rusak karena masyarakatnya rusak. Kembali lagi, akhirnya rusak meskipun hingga akhirnya di umur 30-40 tahun mulai di menyadarinya. Jadi dia mulai menyadari bahwa lembaga pendidikan yang baik itu di Gontor. Dari sini maka Gontor tetap pada jiwa, filsafat hidupnya, totalitas kegiatan dan lain sebagainya.

 

Fungsi dan peran kiyai adalah mengatur, menata dan menggerakkan hidup dan kehidupan yang total di Gontor, akhirnya terbinalah watak, katakter, mental dari Gontor.

 

Maka Gontor lebih mementingkan pendidikan dari pada pengajaran. Akan tetapi itu saja tidak cukup, diperlukan sebuah keterampilan hidup. Keterampilan hidup bukan hanya keterampilan menyetir mobil, berdagang, akan tetapi keterampilan hidup secara keseluruhan.

 

Maka dirayon diajarkan bagaimana seseorang hidup dengan orang yang dia sukai dan yang tidak disukainya. Di dunia manapun, pasti ada yang cocok dan tidak cocok. Bapak Duta Besar pun banyak menemukan home staf yang cocok dan yang tidak cocok akan tetapi bisa hidup dengan mereka semuanya. Saya sebagai pimpinan pondokpun demikian. Maka anak-anak Gontor terlatih di rayon, pramuka, di kelas dan beberapa tempat, sedemikian rupa sehingga mampu hidup dalam kehidupan yang sedimikian itu.

 

Musibahnya, anak Gontor maupun alumni pondok pesantren lainya, mengalami shock culturil. Di Gontor yang sedemikian ketaknya, kemudian keluar bebas. Anak al-Azhar jakarta pun demikian pula problemnya, begitu keluar dari al-azhar jilbabnya tidak dipakai dan lain sebagianya. Itulah masalah yang sama. Maka ketika diskusi di diknas, di Jakarta bersama profesor doktor dan beberapa pakar pendidikan, ternyata ketika lobi-lobi mendapatkan kesulitan pada masyaralat Indonesia yang mulai macam-macam. Baik dari krisis ekonomi, politik, moral, dan lain sebagainya, ini adalah hal yang luar biasa. Maka ketika saya pergi ke kuala lumpur, bertemu dengan beberapa mahasiswa China yang lebih memilih Malaysia ketimbang Indonesia. Mengapa harus Malaysia. Karena Jiakalau  dibawa ke Indonesia akan rusak. Jadi terpaksa saya dibawa ke kuala Lumpur. Demikianlah keadaan pendidikan masyarakat Indonesia, aplagi masa-masa serti saat ini. Semuanya kebingungan. Sekian dari saya.





SUKSES

29 01 2016

Sukses tidak bisa diraih dalam waktu sekejap

Sukses itu perlu proses

Butuh ketekunan
Butuh kerja keras
Butuh integritas tinggi

anak singkong hal XiV





PEMBEKALAN ETIKET SANTRI PESANTREN DARUNNAJAH

28 12 2015

image





معاهد دار النجاح الإسلامية وقف الأراضي والمباني بلغ 119 مليون دولار أمريكي

25 12 2015

معاهد دار النجاح الإسلامية
وقف الأراضي والمباني بلغ 119 مليون دولار أمريكي

أصبحت معاهد دار النجاح الإسلامية للأمة الإسلامية عامة وليست للمؤسسين ولا لأسرهم خاصة.

من 28 نوفمبر 2015 أعلن مؤسس معاهد دار النجاح الإسلامية خلال الحفل الذي حضره العديد من رجال الدولة والضيوف الكرام أن مساحة الوقف بلغت 602 هكتارا أي ما يعادل 119 مليون دولار أمريكي وهي أراضي ومباني موقوفة للتعليم والتربية الإسلامية.

وقد بيّن ذلك كياهي الحاج سيف الدين عارف مدير مؤسسة دار النجاح الإسلامية للصحفيين خلال الحفل الذي عقد بمقر معاهد دار النجاح الإسلامية جاكرتا.

وقد حضر حفل توقيع ميثاق الوقف الثاني وذكرى تأسيس معاهد دار النجاح الإسلامية الـ 54، فخامة نائب رئيس جمهورية إندونيسيا الدكتور الحاج محمد يوسف كالا و سعادة وزير الشؤون الدينية الإندونيسي الدكتوراندنوس لقمان حكيم سيف الدين، وسعادة نائب رئيس مجلس الشورى الإندونيسي الدكتور الحاج محمد هدايت نور واحد، و سعادة نائب رئيس مجلس النواب الإندونيسي فضلي زون مع سفراء البلاد الشقيقة، و حضر سعادة سفير المملكة العربية السعودية لدى إندونيسيا الشيخ مصطفى إبراهيم المبارك، ومعالي سفير جمهورية المصرية العربية لدى إندونيسيا الدكتور بهاء الدين بهجت الدسوقي, وقد حضر سعادة سفير دولة قطر لدى إندونيسيا محمد خاطر الخاطر و سفير تركي لدى إندونيسيا زكريا اكجام.

ولقد أسس معاهد دار النجاح الإسلامية أصحاب الفضيلة الشيخ عبد المناف مخير رحمه الله والشيخ قمر الزمان رحمه الله والشيخ محروس أمين حفظ الله. فالمؤسس فضيلة الشيخ عبد المناف مخير كان عالما من العلماء ومحاربا من أجل حرية إندونيسيا. وقد حمل السلاح دفاعا عن حي راوا بيلونج وكبايوران لاما وفالميراه. ووقد ذكرت مجلة “الرسالة” أن عبد المناف وأباه كانا أعدّا المطبخ للمحاربين فى ثورة إندونيسيا.

ممتلكات وقفية لمعاهد دار النجاح الإسلامية

بيّن مؤسس ومدير معاهد دار النجاح الإسلامية الدكتوراندوس كياهي الحاج محروس أمين أن فى العام 2015، قد بلغت الأراضي الوقفية لمعاهد دار النجاح (عامة) 677.5 هكتارا، تقع فى مختلف المناطق فى إندونيسيا كجاكرتا وبوغور وباندونج وبانتين و لامبونج وبنجكولو ورياو حتى كاليمانتان.

وبجانب الأراضي الموقوفة، لمعاهد دار النجاح الإسلامية يوجد المباني والمزارع وغيرها. وهذه الممتلكات الوقفية تحتاج إلى إدارة جيدة لتكون ممتلكات منتجة.

وقال أيضا أن تدوير الوقف فى معاهد دار النجاح الإسلامية مطابق لمقاصد الشريعة، وهو لتحقيق مصالح الأمة ودفع المضارات. والوقف يقصد به التقرب إلى الله وإعطاء المساعدات الإنسانية ولتحقيق مبدأ الصدقة الجارية. والمال الموقوف يمكن أن يكون عقارا أو منقولا، أو نقودا.

وفى سبيل الاعتماد على النفس، قامت معاهد دار النجاح الإسلامية بإنشاء قطاعات مالية لسدّ الاحتياجات تحت أساس الإدارة الذاتية، بمعنى كل الأعمال صادرة من ممتلكات مؤسسة دار النجاح.

وقال الشيخ محروس أمين أيضا أن الحاصلات التى حصلتها القطاعات المالية لا تقسم إلى أعضاء مجلس الإدارة، بل أنهم يعتمدون على العفة لا يأخذون حقوق المعاهد إلا الحد المقرر.

والمعاهد الإسلامية التى تديرها مؤسسة دار النجاح الإسلامية حاليا 17 فرعا تقع فى مختلف المناطق فى إندونيسيا هي : معاهد دار النجاح الإسلامية بجاكرتا، معاهد دار النجاح الإسلامية بتشيبينينج بوغور، ومعهد المنصور (دار النجاح 3) بسيرانج بانتين، ومعهد ثريا (دار النجاح 4) بسيرانج بانتين ، ومعهد النحل (دار النجاح 5) بتشيكيسيك، بانتين، ومعهد النخيل (دار النجاح 6) ببنكولو جزيرة سومطرة، ومعهد جزيرة النجاح (دار النجاح 7) بنونوكان كاليمانتان الشرقية، ومعهد النور (دار النجاح 8) بتشيدوكوم, و معهد الحسنة دارالنجاح 9 فامولانج، ومعهد دار النجاح 10 بحي بنتارو، ومعهد البركة (دار النجاح 11) ببنكولو جزيرة سومطرة، ومعهد الحركة (دار النجاح 12) بدومي رياو، ومعهد ربيع القلوب لتحفيظ القرآن بتشيدوكوم بوغور (دار النجاح 13)، ومعهد نور العلم (دارالنجاح 14) بسيرانج بانتين، ومعهد محمد أمين لتحفيظ القرآن الكريم (دارالنجاح 15) ببنكولو، جزيرة سومطرة، ومعهد دار النجاح16 بلامبونج، جزيرة سومطرة، ومعهد دار النجاح 17 بسيرانج بنتين.

وقد تطورت معاهد دار النجاح حاليا بمؤسسات ووسائل تعليمية من روضة الأطفال إلى الجامعة. وزاد مدير مؤسسة دار النجاح الإسلامية : “والذي جعل معاهد دار النجاح تتطور هو روح الإخلاص، وجهد المشايخ والمدرسين ودعاء جميع الأمة الإندونيسية”.





PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH DONATED LAND AND BUILDINGS EQUALS TO USD$ 119 MILLIONS FOR EDUCATION

25 12 2015

PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH DONATED LAND AND BUILDINGS EQUALS TO USD$ 119 MILLIONS FOR EDUCATION

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta now belongs to all Muslims and doesn’t belong to the founder or its big family anymore.
Witnessed by some State officials and guests, Pesantren located on jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan No 86, South Jakarta, donated 602 hectare area of land that equals to 1,6 trillion rupiahs for education.
This is the entrust from KH. Abdul Manaf Mukhayyar as the wakif and the founding father of Pondok Pesantren Darunnajah” said KH. Saifuddin Arief, S.H.,M.H., the Chairman of Darunnajah Foundation to the Press at Pondok Pesantren Darunnajah, South Jakarta, Saturday (28/11/2015).
The Second signing program of Wakaf certificate and buildings to celebrate the summit celebration of the 54th Anniversary of Darunnajah is attended by The Vice President of Republic of Indonesia, Mr. Jusuf Kalla, The Minister of Religion Affairs, Lukman Hakim Saifuddin, The Vice Speaker of Indonesia People’s Assembly, M. Hidayat Nur Wahid, The Vice Speaker of the House of Representatives of the Republic of Indonesia Fadli Zon, and Ambassadors from the neighborhood countries: Saudi Arabia, Egypt, Turkey and Qatar.
Pondok Pesantren Darunnajah is established by KH. Abdul Manaf Mukhayyar, Lieutenant Colonel (ret) Drs. H. Kamaruzzaman and KH. Drs. Mahrus Amin. KH. Abdul Manaf Mukhayyar, the Founder is a Muslim Scholar and also the warrior of Indonesia. He involved in war around Rawa Belong, Kebayoran Lama and Palmerah. Written in Majalah Pesan in 1989 that Abdul Manaf and his father opened a public kitchen for Indonesian warrior during the revolution era.

Darunnajah Wakaf Assets
The founding father and The Principal of Pondok Pesantren Darunnajah, K.H. Mahrus Amin said that in 2015, The assets of Darunnajah land donation (wakaf of land) is 677,5 hectares which spread all over Indonesia such as Jakarta, Bogor, Bandung, Banten, Lampung, Bengkulu, Riau and Kalimantan.
Another assets of Darunnajah wakaf are educational institutions, buildings, agriculture businesses, etc. Those wakaf assets need a well-management to be more productive.
“Pesantren Darunnajah wakaf management concept is based on the purpose of of Islamic Law (Maqashid al- Syari’ah), which is to realize and create benefits (maslahat ) and to avoid the disadvantages (mudharat). The purpose of Wakaf is to bring someone closer to Allah and helping people for humanity, and it must be institutionalized to make it more optimal and has no ending. Wakaf could be living or non living materials, and money”, explain K.H. Mahrus Amin.
As an independent Pesantren, Darunnajah also owns economical business units of Darunnajah foundation which is run by self management principle. It means that all capital and fund come from Darunnajah foundation. The benefits from this unit is used for pesantren development.
“None of the benefits is given to the member of Darunnajah foundation board, so that they can keep their ‘Iffah’ or stay away from taking profit from pesantren or if they have to, they can get only for “ghurfatan biyadihi” or a little scoop of hand”, said K.H. Mahrus Amin.
Now Pesantren Darunnajah is spread all over Indonesia, not only in Ulujami South Jakarta but also in Cipining,

  1. Bogor (Darunnajah 2),
  2. Serang Banten (Darunnajah 3 Al-mansur),
  3. Padarincang Serang (Darunnjah 4 Tsurayya),
  4. Cikeusik (Annahl Darunnajah 5),
  5. Muko Muko Bengkulu (Annakhil Darunnajah 6),
  6. Nunukan, East Kalimantan (Jaziratunnajah Darunnajah 7).
    Another branches of Darunnajah are Cidokom Parung Bogor (Annur Darunnajah 8)
  7. Pamulang Tangerang Selatan (Al Hasanah Darunnajah 9),
  8. Pesanggrahan Jakarta Selatan (Daud Ali – Darunnajah 10),
  9. Seluma Bengkulu (Al Barokah-Darunnajah 11),
  10. Dumai Riau (Al Barokah, Darunnajah 12),
  11. Cidokom Parung (Pesantren Tahfidz Al Qur’an Rabi’ul Qulub Darunnajah 13),
  12. Pabuaran – Serang Banten (Nurul Ilmi, Darunnajah 14),
  13. Teluk Segara Bengkulu (Pesantren Tahfidz Qur’an Muhammad Amin – Darunnajah 15),
  14. Lampung (Darunnajah 16), and Serang (Darunnajah 17).

Darunnajah also has many educational institutions from Kindergarten until University.” The things that make Darunnajah get its development is the spirit of ikhlas, Kyai and teachers hard work also the Du’a from the people of Indonesia”, said KH. Saifuddin Arief, The Chairman of Darunnajah Foundation.





SANTRI KLS 6 KMI GONTOR 1985

19 12 2015

[19/12 15:20] abdul kholiq 85: 6 F
1. Endang Suherman, Subang
2. Apit Sudrajat, Sukabumi
3. Ubaidillah HM, Jakarta
4. Agus Rahmat, Subang
5. Syahid Markum, Medan
6. Asep Santosa, Padalarang Bandung
7. Tri Harsono Pamungkas, Blitar
8. M. Subhi Thoha, Palembang
9. Iskandar Marzuki, Jakarta
10. Salim Samlan, Banyuwangi
11. Amanuddin Rosyid, Indramayu
12. Ali Arkiyas, Jakarta
13. Selamet Riyadi, Tegal
14. Moh. Yamin, Sumsel
15. Nuruddin Anbari, Ponorogo
16. A. Khobir Wasi, Banten
17. A. Farurrozi, Sampang
18. Magfur Abd. Halim, Tuban
19. Zainal Fannani, Temaggung
20. Muhlasin Muslih, Kebumen
21. Tengku Abdurrahman, Jakarta
22. Yahya Ali, Lampung
23. Fauzi Nor, Bangil
24. M. Ma’ruf Ch, Semarang
25. Humaidi Nawawi, Banten
26. Erow Mahdudin, Lombok
27. Ahmad Muhammad, Jakarta
28. Khoiruddin AR, Sumenep
29. Makinuddin, Baturaja Sumsel
30. Zainal Muttaqin, Bukittinggi Sumbar
31. Abdurrouf, Medan
32. Moh. Nashir, Kalbar
33. Misbah Ismail, Gresik
34. Basron Sudarmanto, Nganjuk
35. Muzakki Saifurrahman, Magelang

Meninggal (1)
33. Misbah Ismail, Gresik
[19/12 15:20] abdul kholiq 85: 6 C
1. A. Alif Suryanto, Jepara
2. Musthofa HS, Klaten
3. Zainal Muhtarom, Ponorogo
4. Syaripudin Basyar, Lamsel
5. Moch. Chofadh, Surabaya
6. Muhtarom, Surabaya
7. Muh. Nashor, Surabaya
8. Anshori, Lumajang
9. Ahmad Mujahid, Bogor
10. Jauhari Siliwanto, Subang
11. Cecep Musthofa, Bogor
12. Ahmad Nurhasan, Jakarta
13. Muh. Fathan, Jember
14. Luqman, Banda Aceh
15. Hasbi Hasan, Lamut
16. Saifuddin, Madiun
17. Joko Ismadi, Jakarta
18. Nisfian, Pontianak
18. Saptono Basuki, Jakarta
20. Muh. Iqbal, Serang
21. Fifi Fathul Bari, Jakarta
22. Rusmana, Tasikmalaya
23. Musleh Kholil, Lombok
24. Asmuri Ch, Pandaan Malang
25. Wasiq Abdurrozak, Madura
26. Elfian Masri, Pekanbaru
27. Abdul Khomis, Palembang
28. Subhan Jaelani, Pemalang
29. Ridwan Efendy, Madura
30. Amin Suwawi, Surakarta
31. Hasanuddin Dahlan, Gempol Pasuruan
32. Untung Supriadi, Tegal
33. Ainul Asnawi, Demak
34. Hamim Syuhada, Rembang
35. Ris’an Rusli, Sumbar
36. Kaelani, Kediri
37. M. Tata Taufiq, Kuningan

Meninggal (4)
17. Joko Ismadi, Jakarta
24. Asmuri CH, Pandaan Malang
13. Muh. Fathan, Jember
16. Saifuddin, Madiun
[19/12 15:20] abdul kholiq 85: 6 B
1. Iskandar Zawawi, Jakarta
2. Sujiat Zubaidi, Bojonegoro
3. Imam Tohari, Ponorogo
4. Hadi Mujiono, Bojonegoro
5. Anding Mujahidin, Karawang
6. Rif’at Husnul Maafi, Surabaya
7. M. Faroq Ridwan, Banjarmasin
8. Moh. Halim, Solo
9. Zainal Ali, Blitar
10. Hasanuddin MZ, Sidoarjo
11. Abdul Kholiq, Mojokerto
12. M. Syamsuri, Surabaya
13. Abdul Majid, Tangerang
14. Ahmad Suharto, Cepu
15. Ahmad Junaidi, Medan
16. Busthomi Ibrahim, Bojonegoro
17. Yusuf Rahman, Jakarta
18. Aminuddin, Kedu
19. Yusron Kholid, Magetan
29. Imam Bahroni, Ponorogo
21. A. Zarkoni Syah, Madura
22. Khoirul Anam, Lombok
23. Daryono, Temaggung
24. Ahing Hidayatullah, Tegal
25. Moh. Farhan, Surabaya
26. Mahdiansyah, Banjarmasin
27. Irfanul Islam, Jakarta
28. Ahmad Faizin, Ponorogo
29. Anis Rahman, Jakarta
30. Ahmad Thohari, Gresik
31. Moh. Hari Arifin, Yogya
32. M. Arzan Kamal, Sumsel
33. Ahmad Nor, Lamsel
34. Asep Setya Budi, Tasikmalaya
35. Musthofa Luthfi, Mataram Lombok
36. Fuad Imamwahdan, Sabah
37. Zarkasyi, Sumsel

Meninggal (4)
31. A. Zarkoni Syah, Madura
22. Khoirul Anam, Mataram
24. Ahing Hidayatullah, Tegal
3. Imam Thohari, Ponorogo, 2012

Pulang sebelum perpulangan
23. Daryono, Temanggung
[19/12 15:20] abdul kholiq 85: 6 E
1. Mahlani S, Gresik
2. Sofwan Manaf, Jakarta
3. Heru Purwanto, Ponorogo
4. Ahmad Qushoi, Sukabumi
5. Agus Rizal S, Palembang
6. M. Thohir Manaf, Jakarta
7. Fathurrahim, Batang
8. Uep Saifuddin, Sukabumi
9. Ahmad Yani, Tangerang
10. Jajat Sudrajat, Bogor
11. Rusman Umari, Lamut
12. A.M. Budi Utomo, Ponorogo
13. Abdul Mutholib, Sambas Kalbar
14. Rosyidin Ali Said, Jakarta
15. Kasiwandi, Bangka
16. A. Husni Thamrin, Nganjuk
17. Kiki Khoiruddin, Bandung
18. Fajar Jamad, Sekayu Palembang
19. Ahmad Fauzi, Gresik
20. Jhoni Zulkarnain, Palembang
21. Katno Mughni, Ponorogo
22. A. Darul Quthni, Jakarta
23. M. Idul Fitri, Sampang
24. Marzuki, Balangnipa Sulsel
25. Saruji Firdaus, Jakarta
26. M. Misdar, Bangka
27. Zaenal Bahri Lubis, Aceh
28. Ahmad Ghozali, Bekasi
29. Hasanuddin Jamal, Lombok
30. M. Thoifur Mahfud, Pare
31. Junaidi Rosyid, Tegal
32. Ibnu Nashori, Tegal
33. Kasim Zainuddin, Serawak
34. Abdul Karim, Lombok
35. Mahfud B. Samiaji, Suriname

Meninggal (2)
21. Katno Mughni, Ponorogo
8. Uep Saifuddin, Sukabumi
[19/12 15:20] abdul kholiq 85: 6 D
1. Budi Agus Sahrial, Bengkulu
2. Bahrun Matin Maulana, Tg.karang
3. Ahmad Syarofi, Jakarta
4. Misbahul Munir, Grobokan Semarang
5. A. Hidayatullah, Jakarta
6. Makmun Adung, Tangerang
7. Muh. Farid, Surabaya
8. M. Yunus Abubakar, Jombang
9. Ahmad Burhan, Cepu
10. Saiful Anwar, Jakarta
11. Masyhari Husen, Bojonegoro
12. Suwarsono, Banyuwangi
13. Ikhwan Hamdani, Jakarta
14. Zaenal Arifin, Pekalongan
15. Fathurrahman, Bojonegoro
16. Acep Sukardi, Bogor
17. Moh. Nurhasan, Surabaya
18. Alamul Huda, Bojonegoro
19. Amir Mahmud, Lumajang
20. Revantono, Surabaya
21. Rosyidin Bina, Aceh
22. Asnan Shobirin, Sumsel
23. Sopyan AR, Bangka
24. Zainuddin Bukhori, Demak
25. Muhlulis Ahmadi, Bojonegoro
26. Makmun Arba’, Jakarta
27. Halimi Mahdlori, Indramayu
28. Hadinanto, Cirebon
29. Sumarji Masykur, Blora
30. Agus Sulaiman, Jakarta
31. Muhsin Ahmad, Magelang
32. Husein Arif, Gresik
33. Muslim Abd. Munir, Jakarta
34. M. Husni Tamrin, Jakarta
35. Aziz Subakir, Cepu
36. Rusydi M. Yusuf, Jakarta
37. Mujtaba Arsyad, Lamsel

Meninggal (2)
2. Bahrun Matin Maulana, Tanjungkarang Lampung
35. Aziz Subakir, Cepu, 2015








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers