FORMATISIUS

2 03 2008

Adalah Prof Qomaruddin menyampaikan penekanan kepada para pendidik atau guru, bahwa masa SLTP dan SLTA adalah masa yang terpenting dalam pembentukan karakter seseorang.

Dalam dunia psikology, masa SLTP dan SLTA sangat-sangat menentukan pembentukan karakter seorang anak, apakah ia bisa bersosialisasi, berinteraksi, bisa tahan banting, bisa berjiwa militant… lebih banyak tarbiyah dan ta’dibnya…itu sangat dipengaruhi pada masa SLTP/SLTA. Atau pada usia 11 hingga 19 tahun.

“kalau di SD dan sebelumnya masih banyak main, dan masa di perguruan tinggi, lebih banyak ta’limnya (pengajarannya), tapi pada masa SLTP/SLTA akan lebih banyak proses pendidikannya yang diserap” ujar Prof Qomaruddin.

Maka, jika proses pendidikan anak salah pada masa ini akan lebih banyak membawa kesalahan pada masa usaia di perguruan tinggi. Namun jika ia sudah menjadi militant, tahan banting, ia akan berkembang pada masa perguruan tinggi yang hanya mengembangkan pengajaran saja.

Maka usia SLTP/SLTA sangat strategis …

Adalah istilah formatisius; dalam kamus bhs Indonesia hal 320 formatif : morfem terikat, baik yang dipakai untuk membentuk dasar, misalnya juang dalam berjuang. Namun dalam kamus oxford lebih lengkap ditegaskan dalam hal 506. formative “having an important and lasting influence on the development of sth or of sb’s character…

Wallahu a’lam bissowab


Actions

Information

2 responses

3 03 2008
heryazwan

Pada usia SMP/A inilah barangkali peran pondok pesantren sangat krusial dalam membentuk santri yang trengginas dan tahan banting. Pelbagai aktivitas yang menguras energi, baik fisik maupun psikis, diharapkan dapat menjadi sebuah habit baru yang tertanam di alam pikiran bawah sadar. Nantinya, setelah santri tamat dari pondok, “rekaman” militansi tersebut tentunya akan terus terpatri dalam long term memory. Diharapkan dengan belief, value dan habit tersebut para santri “siap” mewarnai dan merespons setiap stimulus yang ditemukannya pada masyarakatnya. Tabik.

2 08 2008
Ma'ruf CH

Saya punya pengalaman empiric, ujicoba konsep, konon anak putri usia 17 tahun tidak suka lagi belajar, karena petensi kegalauan paska puber. anak putri lebih keaktifitas pragmatis. jadi kalau pendekatan yang ditulis komaruddin, untuk perhatian kepada pembentukan karakter atau building charakter, perlu ada perbedaan jenis kelamin, karena beda konsep organism.
Lain lagi, jika anak perempuan diusia-usia resiko perlu ada orentasi proses pendidikan yang konsentrasi pada natural ability, domestic ability dan social ability

Pengasuhan Gontor Putri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: