Pesantren Di Kota Metropolitan: Tantangan Dan Jaringan Kerja

19 11 2008

Kota Metropolitan

Anak-anak muda pedesaan pada saat ini kurang tertarik bekerja di sektor pertanian. Di samping usaha ini memelukan modal yang besar, memakan waktu yang relatif lama, hasilnya juga masih untung-untungan karena ancaman berbagai macam hama. Irigasi yang kurang terurus dan tidak mendapat perhatian pemerintah, menambah biaya bertani. Sehingga anak-anak muda pedesaan tidak sedikit yang mengadu nasib ke kota.

Kota metropolitan menjadi harapan semua orang. Pertumbuhan penduduk yang terus miningkat cukup membuktikan besarnya harapan terhadap kota metropolitan. Dari segi ekonomi, penduduk miskin pedesaan (20,23 %) memang lebih besar dari pada miskin perkotaan (13,57%) dan penduduk yang bekerja penuh di perkotaan lebih besar dari pada di pedesaan. Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa keadaan sosial merupakan faktor utama yang menyebabkan seseorang berpindah lokasi, tidak adanya mata pencaharian, khususnya di bidang pertanian, menekan penduduk pedesaan melakukan migrasi ke kota.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan Islam bagi generasi muda merupakan peluang sekaligus tantangan untuk mengembangkan pendidikan pesantren di kota metropolitan. Di kota-kota besar, kesadaran itu amat terasa, karena orang tahu, anak yang dididik agama dengan baik sangat berbeda dengan yang kurang terdidik. Berita kriminal di media masa cukup membuktikan, berita anak durhaka, berita pembunuhan, narkoba, penodongan dan sebagainya.

Sibuk merupakan salah satu ciri kehidupan di kota metropolitan. Karena sibuk, orang tua hampir tidak bisa mengontrol pendidikan anak-anaknya. Ketika anak berangkat ke sekolah, orang tua berangkat bekerja. Anak-anak pulang sekolah, orang tua tidak ada di rumah.

Siapa yang mengontrol anak-anak di rumah? Anak-anak lebih banyak hidup dengan pembantu rumah tangga dari pada orang tuanya. Sehingga tidak aneh jika pendidikan anak banyak diwarnai kondisi pembantu. Masih untung jika pembantu berlatar belakang pendidikan dan agamis.

Proses pembelajaran di keluarga pada saat ini lebih didominasi oleh didikan TV dari pada peran orang tua. Selain orang tua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sementara anak lebih asyik ditemani TV. Padahal acara TV pada umumnya tidak sehat untuk anak-anak, sebagaimana hasil penelitian, acara TV hanya 27 persen yang aman dari seks dan kekerasan, selebihnya 73 persen berbahaya.

Masyarakat sekitar rumah tangga juga tidak bisa diandalkan sebagai penunjang pendidikan. Apa yang dilihat oleh anak didik di sekitar rumahnya, di sepanjang jalan dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah, tidak semua dapat menjadi contoh yang baik yang dapat ditiru oleh anak didik. Bisa jadi ada penodongan, orang pacaran, pengendara menyerobot jalan, pedagang obat di pinggir jalan, dan sebagainya.

Di sisi lain, pada umumnya orang tua berasal dari keluarga terdidik, yang sadar akan pendidikan dan ditunjang kemampuan ekonomi yang cukup.

Pesantren menjadi Pilihan

Melihat kondisi lingkungan masyarakat yang tidak kondusif ditambah dengan kesibukan orang tua, maka lembaga pendidikan pesantren menjadi sebuah pilihan. Tripusat pendidikan yang merupakan ide Ki Hajardewantara pada saat ini bisa dilaksanakan di sekolah, tetapi belum tentu bisa diwujudkan dalam keluarga dan masyarakat.

Dengan fasilitas dan SDM yang ada, tripusat pendidikan dapat diwujudkan di pesantren. Pesantren dapat membentuk tiga pusat pendidikan sekaligus: pesantren sebagai keluarga, sekolah, dan membentuk masyarakat. Pesantren dengan sistem asrama merupakan keluarga.

Di asrama, selain anggota asrama, ada ketua kamar, dan ada musyrif (wali kamar). Musyrif adalah seorang ustadz sebagai pengganti orang tua yang bertanggung jawab pada pembinaan kamar. Dari pembinaan ibadah, akhlaq, kebersihan, kesehatan, dan ketenangan.

Siaran TV dan hiburan lainnya di pesantren dapat dikendalikan. Namun santri tidak ketinggalan berita, karena selalu ada koran di tempat-tempat umum..

Pesantren dapat membentuk masyarakat tersendiri yang tersaring dari hiruk-pikuk kota. Masyarakatnya adalah masyarakat pesantren yang terdiri dari kyai, ustadz, ustadzah, santri, dan karyawan; di bawah satu komando, pimpinan pesantren.

Tantangan Idealisme

Kelebihan pesantren dari madrasah antara lain di sisi pengasuhan. Selain belajar di kelas pada siang hari, para santri dibina secara rohani dan jasmani, dari shalat berjamaah, shalat sunah, ceramah agama, sampai dengan olah raga. Seluruhnya diatur pesantren, singkatnya dari bangun tidur sampai tidur lagi sudah terjadwal.

Di asrama idealisme pendidikan pesantren dapat dilaksanakan, dari nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, persaudaraan, kebebasan. Taat dan hormat pada guru, sayang pada sesama dan adik-adiknya.

Para ustadz memegang peranan penting untuk dapat melaksanakan program-program pengasuhan di pesantren. Pengasuh sebagai pengganti orang tua, sebagai kakak, bahkan sebagai teman untuk mendengarkan keluh-kesah, di sampaing sebagai tempat bertanya untuk sekian mata pelajaran.

Namun demikian tidaklah mudah mencari tenaga pengasuh yang hamdal; ilmunya cukup, perhatian pada anak, dapat membimbing, dam istiqamah. Bisa menggerakkan untuk belajar, untuk ibadah, untuk disiplin, menjaga dan memelihara kebersihan. Menjadi contoh dalam pergaulan, dalam ibadah, dan dalam kesederhanaan. Dan dapat memahami keadaan pesantren.

Tidaklah mudah mencari dan mempertahankan figur-figur semacam itu, sehingga banyak pesantren di kota metropolitan yang berubah menjadi madrasah biasa.

Dalam hal pengasuhan, pondok pesantren di kota metropolitan harus punya kiat tersendiri, jika ingin tetap eksis.

Teknologi Informasi

Mudahnya mengakses informasi, bukan hanya monopoli masyarakat di kota-kota besar. Kemajuan teknologi informasi kini sudah merambah ke seluruh penjuru dunia.

Dengan teknologi informasi ini sangat memungkinkan untuk mengakses berbagai informasi, baik menggunakan e-mail untuk saling berkirim surat atau mailing list untuk forum diskusi online. Sehingga pesantren dapat menjalin silaturrahmi antar alumni, wali santri, dan simpatisan. Bahkan pesantren dapat membangun cyber pesantren sehingga di seluruh sudut pesantren di Indonesia dapat mengakses berbagai aplikasi di internet seperti e-mail, chatting, voip, milis, search engine dan teleconference, sedangkan fasilitas di intranet dapat dimamfaatkan untuk keperluan administrasi pesantren dan jaringan antar departemen (LAN).

Bukan hanya itu, pesantren dapat juga menjalin komunikasi dengan lembaga pendidikan di dalam maupun manca negara semacam Global gateway. Pesantren dapat saling tukar informasi bahkan dikembangkan dengan school link yang programnya antara lain pertukaran guru, bahkan murid.

Di sisi lain, pesantren harus dapat mengatur waktu dan dapat memilah berbagai macam informasi yang masuk, sehingga anak didik terhindar dari berbagai informasi yang negatif.

Pesantren di kota metropolitan, dilihat dari lokasi, adalah peluang untuk cepat tumbuh dan berkembang. Posisi yang ada di pusat kota atau dekat dengan pusat pemerintahan, akan mudah menjangkau berbagai tempat penting. Berbagai keuntungan yang mungkin diperoleh dari lokasi yang strategis:

1. Lebih cepat mendapat dan merespon informasi
2. Sering dikunjungi tamu ataupun lembaga pendidikan lain, bahkan tamu negara akan diarahkan ke pesantren ini
3. Orang kota tidak perlu jauh-jauh mengirimkan anaknya
4. Sering ditempati untuk pelatihan dan sebagainya
5. Relatif lebih mudah membangun jaringan kerja.

Jaringan Kerja

Pesantren-pesantren yang keberadaannya di kota metropolitan mempunyai peluang yang lebih besar untuk membangun dan mengembangkan jaringan kerja, baik melalui teknologi informatika maupun dengan kunjungan silaturrahmi, segalanya serba mungkin. Jaringan kerja yang mungkin dibangun:

1. Jaringan internet:
– Jaringan intranet untuk mengelola data base santri dan administrasi intern pesantren melalui jaringan lokal
– Informasi tentang pesantren dapat dilihat melalui situs pesantren yang dikelola dengan profesional
– Cyber pesantren, laporan program kerja dan keuangan antar kantor dengan e-mail
– Memiliki hospot dengan fasilitas wifi, dapat mengakses internet di area radius 1 km
– Orang tua dapat meng-akses data santri melalui telepon Flexi
– Memanfaatkan berbagai fasilitas: e-mail, chatting, voip, milis, search engine, dan teleconference:
2. Jaringan kerja dengan pemerintah daerah dan pusat, dari kelurahan sampai istana
3. jaringan kerja dengan departemen dan kementerian yang ”dekat” dengan pesantren: Departemen Agama, Pendidikan Nasional, Pemuda dan Olah Raga, Pertanian, Koperasi dan UKM, Luar Negeri, dan sebagainya
4. Jaringan kerja dengan pesantren sekitar
5. Jaringan kerja dengan sekolah-sekolah internasional di sekitar pesantren
6. Jaringan kerja dengan sekolah unggulan di sekitar pesantren
7. Jaringan kerja dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat di sekitar pesantren
8. Jaringan kerja dengan kedutaan asing.

Demikianlah beberapa hal yang bisa kami sampaikan. Dari apa yang dapat kami sampaikan, sebagian adalah pengalaman kami dan sebagian lainnya masih menjadi angan-angan. Semoga bermanfaat.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: