KH Abdul Manaf Mukhayyar

20 02 2012

lahir di kampung Kebon Kelapa, Palmerah, Jakarta ,
pada Kamis 29 Juni 1922 dari pasangan Haji Mukhayyar dan Hj. Hamidah,
Ia adalah anak ke-4 dari 11 bersaudara.

Membayangkan [[Jakarta]] tahun 1900-an tentu sangat berbeda dengan saat
ini. Tidak ada Monas, jembatan Semanggi, gedung-gedung bertingkat
apalagi mal dan kemacetan. Jakarta saat itu adalah ibukota Hindia
Belanda yang luasnya tak sampai separuh dari wilayah kota saat ini.
Sebagai ibukota negara, Jakarta saat itu sudah memiliki beragam
fasilitas umum. Kereta api, mobil angkutan, sekolah, pasar, tangsi
tentara dan kantor-kantor perwakilan dagang. Pusat kota ada di
Weltevreden, Glodok, Kota, Jatinegara, Senen, Tanjung Priok dan Tanah
Abang. Kawasan Kebayoran Lama, Ciputat, Kebon Jeruk, dan sebagainya
adalah kawasan pinggiran yang asri.

Sejak kecil, H. Mukhayyar (ayah K.H. Abdul Manaf Mukhayyar) sudah
menanamkan kebiasaan beribadah bagi anak-anaknya. Termasuk kepada
Abdul Manaf. Saat bulan puasa, anak-anaknya diajak ke masjid untuk
salat tarawih. Ayah H. Mukhayyar, H. Bukhori, juga ikut membimbing
cucu-cucunya.

Atmosfer politik di Batavia yang sedang berada dalam masa pergerakan
dan semangat semangat Pan Islam yang sedang tumbuh di kalangan umat
Islam saat itu, mendorong munculnya lembaga-lembaga pendidikan
gubernemen (dikelola pemerintah kolonial) maupun lembaga pendidikan
swasta, yang dua-duanya bisa diakses oleh orang pribumi. Dalam hal
ini, Abdul Manaf mendapat berkah dari situasi yang tidak didapati dari
masa hidup ayah atau kakeknya. Oleh H. Mukhayyar, ia dikirim untuk
belajar di sekolah Belanda, dan sore harinya belajar mengaji ke
madrasah.

Sesungguhnya, tidak semua orang bisa mengirimkan anaknya belajar di
sekolah Belanda saat itu. Umumnya hanya orang-orang yang secara
ekonomi mampu atau memiliki kedudukan di pemerintahan saja yang bisa
melakukannya. Abdul Manaf kecil termasuk beruntung karena H. Mukhayyar
termasuk orang kaya. Ia memasukkan Abdul Manaf ke Volksschool
(sekolah dasar) selama tiga tahun di Pengembangan Palmerah pada usia
10 tahun. Dari Volksschool, Abdul Manaf melanjutkan ke
Vervolegschool (sekolah lanjutan) selama dua tahun.

Selain belajar di sekolah, sore hari selepas pulang dari
Vervolegschool, Abdul Manaf muda mengikuti pengajian di rumah Haji
Sidik di Bendungan Hilir. Kondisi jalan saat itu yang becek, belum ada
jembatan permanen, dan kanan-kirinya ditumbuhi semak-belukar berduri,
ditempuh oleh Abdul Manaf dari Palmerah menuju Bendungan Hilir dengan
berjalan kaki.

Dengan kekayaan yang dimilikinya, H. Mukhayyar tidak memanjakan
anak-anaknya. Anak-anak, termasuk Abdul Manaf, justru didorong untuk
bekerja dan tidak bermalas-malasan. Untuk mendapatkan uang, mereka
harus bekerja. Anak-anak diberi contoh cara memanfaatkan waktu
sebaik-baiknya sekaligus berlatih mandiri. Siang atau sore hari,
anak-anak H. Mukhayyar disuruh ngreret (membuat tali dari pelepah
pisang yang kering). Tali-tali itu kemudian disuruh dijual ke pedagang
tembakau. Uang hasil penjualannya, dipercayakan kepada anak-anaknya
untuk digunakan. H. Mukhayyar juga menceritakan kepada anak-anaknya
pengalaman pernah menjadi kuli pembangunan rel kereta api Palmerah.
Hal itu sebagai bentuk contoh dan semangat yang diberikan H. Mukhayyar
agar anak-anaknya tak malu bekerja kasar sekalipun asalkan halal.

Didikan orang tuanya itu memang membuat Abdul Manaf terbiasa bekerja
keras, ulet, sederhana, mandiri, dan rajin menabung. Selain mengaji
dan bersekolah, waktu luang Abdul Manaf diisi dengan membantu orang
tuanya berjualan daun pisang, mencangkul, membuat tali dari pelepah
pisang, dan berjualan kayu kering. Dengan cara ini, Abdul Manaf bisa
membiayai pendidikannya sejak kecil.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: