Peran Pendidikan Pesantren Terhadap Pembangunan Karakter Bangsa

9 01 2014

Peran Pendidikan Pesantren

Terhadap Pembangunan Karakter Bangsa

 

Pendidikan karakter  dapat diartikan  sebagai proses penanaman nilai yang sangat penting pada diri anak dengan cara berbagai macam  kegiatan pembelajaran dan pendampingan sehingga para anak bangsa  dapat  mengerti dan memahami, mengalami, serta  mengintegrasikan nilai yang menjadi nilai inti dalam pendidikan yang dijalaninya ke dalam kehidupannya.

            Menurut saya  praktik pendidikan di Indonesia lebih berorentasi pada pendidikan berbasis keterampilan teknis yang lebih banyak bersifat mengembangkan intelligence quotient, namun jarang sekali mengembangkan kemampuan softskill yang tertuang dalam emotionalintelligence (EQ), dan spiritualintelligence (SQ).

Pengajaran dan pembelajaran di sekolah sampai dengan  jenjang perguruan tinggi lebih mengutamakan pada perolehan nilai hasil ulangan dan nilai hasil ujian di tingkat TK, SD sd SMA sedangkan di perguruan tinggi mengutamakan nilai IPK (Indek Prestasi Kumulatif). Sebagian guru dan dosen yang mempunyai persepsi bahwa peserta didik yang memiliki kompetensi yang baik adalah memiliki nilai hasil ulangan/ujian atau nilai IPK yang tinggi.

Seiring perkembangan zaman, pendidikan yang hanya berbasiskan hard skill yaitu menghasilkan lulusan yang hanya memiliki prestasi dalam akademis, harus mulai dibenahi. Sekarang pembelajaran juga harus berbasis pada pengembangan soft skill (interaksi sosial) sebab ini sangat penting dalam pembentukan karakter anak bangsa sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan soft skill bertumpu pada pembinaan mentalitas agar peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill )saja, tetapi juga oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill).

Ada beberapa cara  yang dapat dikembangkan di pesantren  dalam melaksanakan  proses pembinaan karakter :

  • Membuat slogan yang mampu menumbuhkan kebiasaan baik dalam segala tingkah laku masyarakat sekolah/pesantren.
  • Memasukan konsep karakter pada setiap kegiatan pembelajaran dengan metode : Menggunakan cara yang mampu  membuat anak mempunyai  alas an atau keinginan untuk berbuat baik, Mengembangkan sikap mencintai untukmelakukan kebaikan. Menambahkan nilai kebaikan kepada anak.
  • Pengontrolan secara terus-menerus yang  merupakan wujud dari pelaksanaan pembangunan karakter. Beberapa hal yang harus selalu dipantau diantaranya adalah: kebiasaan dalam berbicara, makan, berbicara, sopan santun, berpakaian dan lain sebagainya.

Saya sepakat apa yag telah dituliskan oleh saudara M.Ihsan Dacholfany, dalam buku ini bahwa ada beberapa strategi yang bisa menjadi alternatif pendidikan karakter di pesantren antara lain :

  • Pendekatan dengan memberlakukanya sistem hadiah dan hukuman sebagai stimulus dan motivator terwujudnya tata kelola yang dibuat, seperti di pesantren yang melanggar bahasa akan di hukum dan yang mendapatkan juara lomba pidato, dsb.
  • Pendekatan Suasana Belajar (fisik maupun suasana psikis) yaitu  dengan mengkondisikan suasana belajar supaya menjadi sumber inspirasi penyadaran  nilai bagi seluruh perangkat pesantren, termasuk para santri, seperti dengan memasang visi – misi pesantren bahkan motto bahkan jangka panjang dan pendek pesantren, kata-kata hikmah, ayat-ayat  al-Qur’an dan mutiara hadis di tempat-tempat yang selalu terlihat oleh siapapun yang ada di pesantren, memposisikan bangunan masjid di arena utama pesantren, memasang kaligrafi di setiap ruangan belajar santri, membiasakan membaca al-Qur’an setiap mengawali belajar dengan dipimpin ustadz, program shalat berjamaah, kuliah tujuh menit, perlombaan-perlombaan dan sebagainya.
  • Pendekatan Normatif adalah  mereka (perangkat pesantren) secara bersama-sama membuat tata kelola (good governence) atau tata tertib penyelenggaraan pesantren yang di dalamnya dilandasi oleh nilai-nilai pendidikan karakter/akhlak, perumusan tata kelola ini penting dibuat secarabersama, bahkan melibatkan santri dan tidak bersifat top down dari pimpinan pesantren. Sehingga terlahir tanggung jawab moral kolektif  yang dapat melahirkan sistem kontrol sosial, yang pada giliranya mendorong terwujudnya institution culture yang penuh arti.
  • Pendekatan Model yaitu mereka (perangkat pesantren), khususnya pimpinan pesantren berupaya untuk menjadi model dari tata tertib yang dirumuskan, ucap, sikap dan prilakunya menjadi perwujudan dari tata tertib yang disepakati bersama.

Ada dua faktor yang mendukung eksistensi pendidikan karakter pondok pesantren,yaitu meliputi faktor interal dan eksternal.

1.  Faktor Internal

Pertama, Faktor Kemandirian: secara kelembagaan pondok pesantren memiliki kemandirian. Kemandirian itu tercermin dalam figur kyai sebagai pemimpin dan pengasuh yang memiliki otoritas penuh terhadap keseluruhan yang ada dilingkungan pesantren. Maju-mundurnya pesantren sangat tergantung dari ketokohan kyai yang memimpin dan mengasuhnya. Tradisi yang digunakan untuk menentukan kyai pengasuh pondok adalah tradisi turun-temurun diambil dari putra tertua laki-laki.

Gambaran pondok pesantren seperti ini menunjukkan, bahwa dalam sistem tersebut menyerupai sebuah kerajaan kecil. Selain itu, kekuatan kemandirian juga tercermin dalam sisten pendidikannya. Pondok pesantren dalan menjalankan pendidikannya cukup mandiri dan merdeka, serta tidak terikat oleh suatu institusi atau lembaga lainnya. Ini ditentukan melalui kurikulum sistem pengajaran yang digunakan pengajar maupun lulusannya. Di samping itu, sistem pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren dikenal dengan “sistem pondok”. Dengan sistem ini, proses pendidikan dan pengajaran berIangsung terus menerus. Pengajaran dan pendidikan berlangsung, baik dalam kelas maupundi luar kelas,siang maupun malam.

Dalam sistem ini pula, hubungan antara ustadz atau kyai dengan santri atau siswa berlangsung dalam setiap waktu sehingga terpadu suasana perguruan dan kekeluargaan. Sistem pondok, dapat dikatakan sebagai pendidikan dan kemandirian langsung yang dilakukan oleh santri atau siswa santri atau siswa jugadihadapkan pada kehidupannya sendiri, yaitu pengaturan diri sendiri dari sejakpengambilan keputusan sampai pelaksanaannya. Solidaritas tumbuh secara wajar.Santri belajar saling menghormati dan menghargai, serta tenggang rasa. Sikap dan sifat keterbukaan dapat berkembang secara baik, sifat isolatif  kurang atau tidak mendapatkan tempat. Santri atau siswa berkompetisi secara sehat dalam proses meraih prestasi, dalam artian santri atau siswa tidak hanya melihat Prestasi dari santri atausiswa lainnya, tetapi santri atau siswa dapat belajar langsung dari temannya, bagaimana cara meraih prestasi: cara belajar, membagi waktu dalam tugas, danlain sebagainya. Disinilah akan didapatkan sifat jujur untuk dirinya dan pada yang lain.

             Keberhasilan dalam sistem pondok tidak lepas dari peranan kyai atau guru dalam memberikan pengaturan, pengawasan dan bimbingan yang disertai dengan keteladanan yang murni sebagai landasannya. Kemandirian Ini yang dimiliki pondok pesantren adalah dalam pendanaan operasional, dimana pesantren lebih mengutamakan pada santri dan masyarakat pendukungnya yang nantinya tidakmengikat pada kebijaksanaan pondok pesantren. Pembiayaan pondok pesantren hampir seluruhnya datang dari santri dan sebagian lain dari Masyarakatpendukung pondok pesantren. Sifat kemandirian dalam pembiayaan adalahkeberhasilan dari lembaga pondok pesantren yang telah mampu menjalin jaringanaksi, baik terhadap lembaga pemerintah dan masyarakat.

          Selain itu Faktor Sistem Nilai dan Kultur: sistem Nilai dan Kultur yang didukung dan hidup di lingkungan pesantren lebih kuat dibandingkan dengan sistem nilaidan kultur di luar. Sistem nilai kultur yang hidup dan didukung oleh lingkungan pesantren, dapat ditelusuri dari ajaran pembentuk kehidupannya. Nilai dan kultur pesantren begitu tertanam kuat di kalangan santri sehingga setiap santribertanggung jawab atas kelangsungan nilai dan kultur yang hidup dan didukungnya. Nilai dan kultur itu tercermin dalam sikap hidup, tradisi yangberlaku, serta seni yang hidup, di mana semuanya bersumber dan ajaran agamaIslam.

2.    Faktor Eksternal

Pertama, ditinjau secara kelembagaan, yaitu terdapat banyak “mushola atau langgar- “yang tersebar hampir d seluruh Rt/Rw atau kelurahan  desa. mushola atau langgar  merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang memiliki  banyak kesamaan dengan pondok pesantren. Bedanya hanya lokasi  pada santri  tidak  menetap dalam pondok, sedangkan dalam system pendidikan dan pengajarannya, secara keseluruhan menyerupai pondok pesantren. Mushola atau langgar  biasanya didirikan oleh seorang ustadz atau kyai yang sebelumnya telah belajar ilmu agama Islam di pondok pesantren.

Lembaga langgar merupakan faktor pendukung utama bagi eksistensinya pondok pesantren sebab dari lembaga inilah penyebaran informasi oleh seorang ustadz atau Kyai dapat berlangsung. Jadi kedudukan lembaga mushola atau langgar adalah lembaga Islam tradisional tingkat dasar. Kedua, masyarakat Islam tradisional yang tersebar di wilayah pedesaan  dilihat dari mata pencaharian masyarakat Islam tradisional adalah petani, buruh, pedagang, dan sebagian kecil pegawai.

Pondok pesantren memiliki pengaruh yang besar terhadap masyarakat Islam tradisional sebab  antara keduanya mempunyai hubungan tradisionaI, di mana pondok pesantren memberikan bimbingan keagamaan, pelayanan pendidikan, serta kepemimpinan infomal. Sementara sebagai timbal baliknya, masyarakat Islam tradisional memberikan sumbangan dalam pendanaan, baik melalui infak dan sadaqah, maupun melalui santri-santri yang belajar dipesantren.  Dalam tradisi pesantren, metode dan sistem pengajaran, memiliki model-model klasikal, yaitu sistem pengajaran individual dengan menggunakan metode sorogandan wetonan dan lain sebagainya.  

               Kedua metode tersebut telah bertahan sejak awal sejarah Islam di Indonesia hingga sekarang dan terus dilestarikan, terutama di pondok pesantren salaf.Metode sorogan, yaitu cara mengajar dimana santri menghadap kyai atau ustadz seorang demi seorang, dengan menyodorkan kitab yang dipelajarinya. Cara pengajarannya yaitu kyai atau ustadz membacakan dan atau menyimak kitab yangberbahasa arab gundul (tanpa sandang apapun/harakat), kalimat demi kalimatkemudian diartikannya dalam bahasa Jawa, baru kemudian kyai atau ustadz menjelaskan secara keseluruhan. Kegiatan santri adalah menyimak sambil member catatan-catatän kecil dibawah atau disamping, atau ngesahi teks Arab sebagai bukti bahwa bagian tersebut telah dipelajari.

           Metode sorogan merupakan sistem pengajaran individual yang sangat baik.Kyai atau ustadz dengan santri dapat langsung berinteraksi sehingga prosespengajaran dan pendidikan akan lebih bermakna. Pengajaran dengan metode sorogan merupakan bagian yang paling sulit dalam keseluruhan sistem pendidikan karenamenuntut kesabaran, ketekunan, ketaatan dan kedisiplinan santri. Kehandalan danpenggunaan sistem ini telah terbukti sangat efektif dan selektif sebagai tarafdasar, atau awal bagi seorang santri dapat meraih gelar seorang yang alim.

            Selain metode diatas terdapat juga metode lain, yaitu metode musyawarah (bahtsulmasa’il). Santri dihadapkan pada masalah yang nyata di hadapi masyrakat kemudian mereka di tuntut untuk menyelesaikan masalah tersebut (biasanya dilakukan oleh santri tingkat 6 di pondok modern darussalam Gontor pada acara pembekalan menjelang kelulusan),  Sehingga dapat diketahui  perbedaan perspektif dalam menyikapi suatu masalah terjadi perbedaan pendapat. Tujuan dari bahtsul masail ini bahwa para santri di harapkan mampu menghadapi masalah yang sedang di alami olehmasyarakat sehingga apa yang mereka pelajari bukanlah hal yang mengawangdilangit akan tetapi merupakan realitas nyata dan oleh karena itu problem yangdi ajukan juga selalu terkait dengan masyarakat. Dan posisi seorang Kyai dapat membimbing ustadz senior agar dapat menjadi fasilitator, membimbing, dan sebagai narasumber terakhir apabila santri mengalami kesulitan.

            Dari tulisan saya diatas i diatas sangat tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Pesantren salah satu lembaga yang mempunyaiperan signifikan dan kontribusi besar dalam pembentukan dan pembangunan  karakter dan kapasitas bangsa . Dalam penerapan pendidikannya pesantren lebih mengedepankan kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills) dalam menghadapi kehidupan di masyarakat yang serba komplek terhadap Pembangunan Karakter Bangsa

Dr. Sofwan Manaf, M.Si

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah

Kampus Darunnajah, Jl. Ulujami Raya 86

Pesanggrahan Jakarta Selatan 12250

Telp: 0217350187 / 02173883665

0811805905 / 08978805905

sofwanm2001@yahoo.com

 Sofwan7@gmail.com

 

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: