IDEALISME DAN PENGALAMAN PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH DALAM PENGAJARAN BAHASA ARAB

5 03 2014

 IDEALISME DAN PENGALAMAN PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH

DALAM PENGAJARAN BAHASA ARAB

Oleh Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si.[1]

 

PENDAHULUAN

 

إِنَّا أَنْزَلْنَا قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ   (يوسف/12: 2)

 

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab,

agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf/12: 2)

 

Bahasa Arab memang sebuah bahasa yang istimewa. Sehingga Allah SWT berkenan berbicara kepada umat manusia dengan bahasa Arab lewat Al-Quran Al-Karim. Padahal Al-Quran itu bukan hanya ditujukan kepada bangsa Arab saja, melainkan untuk seluruh umat manusia sepanjang zaman. Kenapa bukan bahasa lain yang digunakan Allah Swt dalam Al-Qur`an yang diturunkannya. Dalam hal ini tentunya banyak sekali penelitian dan argumen yang disampaikan. Allah telah menurunkan kitab-kitab lain selain Al-Quran dengan bahasa kaumnya masing-masing. Namun, khusus untuk Al-Quran Allah Swt turunkan dengan bahasa Arab, bukan sekedar Nabi Muhammad Saw adalah orang Arab, atau sekedar untuk umat Islam, melainkan karena memang Nabi Muhammad Saw adalah Nabi dan Rasul terakhir yang risalahnya untuk sekalian alam. Jadi dipilihnya bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran tentu dengan pertimbangan keuniversalan bahasa Arab dibanding bahasa-bahasa lainnya. Bahkan Janet Holmes, pemerhati bahasa, mengatakan bahwa Al-Qur’an dilihat dari segi sosiolinguistik atau teori diglosia mengandung high variety (varitas kebahasaan yang tinggi).[2]

Oleh karena itu, sepatutnya bahasa Arab menjadi bahasa ibu bagi pemeluk agama Islam. Apalagi ayat di atas jelas menunjukkan bahwa kalamullah, Al-Qur`an, yang bersifat universal, kandungannya yang mencakup segala hal, hanya bisa dipahami dan dimengerti kecuali dengan mempelajari Bahasa Arab. Ini menunjukkan urgensinya bahasa Arab dalam dunia Islam. Maka dalam hal ini, pesantren yang notebene sebagai pemegang tongkat estafet utama yang menjaga kelestarian ilmu-ilmu keislaman (al-Ulum al-Islamiyah) dan keberlangsungan bahasa Arab harus terus mempertahankan idealismenya dalam mempelajari bahasa Arab, selain karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur`an, juga sebagai alat untuk memahami ilmu-ilmu keislaman yang umumnya menggunakan bahasa Arab.

Dalam perkembangannya, bahasa Arab mengalami kondisi yang dilematis. Idealisme bahasa Arab yang seharusnya menjadi bahasa utama umat Islam, justru berbanding terbalik. Realitas yang ada, umat Islam pada umumnya tidak bergairah untuk mempelajari dan menguasai bahasa Arab. Umat Islam pada umumnya justru lebih tertarik mempelajari bahasa asing lainnya, seperti Inggris, Prancis, Jepang, Mandarin dan lainnya. Bahasa arab dianggap sebagai bahasa yang ‘hanya’ untuk memahami Agama Islam dan harus dipelajari kalangan santri pesantren, madrasah atau lembaga-lembaga Islam, atau bahkan tidak lebih sekedar bahasa persiapan bagi para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang umumnya bekerja di Timur Tengah.

 

IDEALISME MENGGUNAKAN BAHASA ARAB DI PESANTREN

 

Perkembangan pesantren di Indonesia cukup menggembirakan, di mana jumlah pesantren terus berkembang. Menurut data Kementrian Agama, jumlah Pondok Pesantren tahun 2011-2012 sebanyak 27.230 Pondok Pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan jumlah 5,631,648 santri.[3] Ini tentunya sebagai angin segar, di mana bahasa Arab tentunya masih dipelajari dan digunakan minimal di semua pesantren di nusantara di samping juga dipelajari di madrasah-madrasah.

Di samping bahasa Arab, bahasa asing lain yang dominan dipelajari di pesantren pada umumnya adalah bahasa Inggris. Hal ini tentunya dengan pertimbangan bahasa Inggris adalah bahasa internasional pertama di dunia. Beberapa bahasa lainpun juga dipelajari di beberapa pesantren yang biasanya menggunakan kurikulum pemerintah yang berjurusan bahasa asing, seperti bahasa Jepang, Prancis, dan Mandarin.

Dalam perkembangannya hingga  saat ini, posisi bahasa Arab tetap dominan dan menempati posisi teratas dalam pembelajaran bahasa Asing di pesantren-pesantren. Hal ini tidak terlepas dari sejak semula keberadaan pesantren memang mengemban misi utama dalam penyebaran dan pengajaran ilmu-ilmu agama dari tingkat dasar sampai tingkat tertinggi, yang medianya tidak lain adalah Bahasa Arab dengan varian ilmu kebahasaan lainnya, seperti Nahwu, sharaf, balaghah, mantiq dan lainnya.

Oleh karena itu, tidak heran, bahasa Arab, menjadi salah satu pelajaran utama yang menjadi ciri khas, bahkan menjadi tolok ukur keberhasilan pembelajaran ilmu-ilmu keagamaan.

Semua keberhasilan dalam penggunaan bahasa Arab tersebut, tidak terlepas dari metode yang digunakan dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab. Ragam metode tradisional maupun metode modern yang marak bermunculan dari para pegiat bahasa Arab merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran bahasa Arab.

 

KARAKTERISTIK BAHASA KEDUA (BAHASA ARAB)

 

Dalam ranah bahasa dikenal pembagian bahasa, yaitu bahasa pertama (B1) yang biasa disebut bahasa ibu, dan bahasa kedua (B2) yang biasa disebut bahasa asing.

Perbedaan antara proses pembelajaran Bahasa Pertama (B1) dengan Bahasa kedua (B2):

  1. Dalam pemerolehan bahasa pertama (B1), diperoleh pada masa anak-anak dalam arti bahasa yang baru pertama kali dikenal dan digunakan sehari-hari disebut juga bahasa ibu. Sedangkan Bahasa Kedua (B2) diperoleh setelah anak menginjak usia sekolah dan merupakan bahasa asing pertama yang diperolehnya.
  2. Faktor usia
  3. Kompetensi orang dewasa memilih di antara dua alternatif, kadangkala mereka memperlihatkan kepahaman gramatikal dalam bahasa kedua (B2). Hal ini tergambar dari siswa yang aktif dan pasif dalam berbahasa Arab.

Di samping itu, ada titik persamaan antara Bahasa Pertama (B1) dan Bahasa Kedua (B2) yang didefinisikan oleh H.H. Stern (1970, h. 57-58):

  1. Dalam pengajaran bahasa, kita harus terus menerus berlatih. Seperti anak kecil yang belajar bahasa ibunya, ia terus mengulang-ulang. Selama masih dalam tahap belajar bahasa ia terus berlatih. Inilah yang mesti kita lakukan ketika belajar bahasa asing.
  2. Pembelajaran bahasa adalah masalah peniruan. Anda harus menjadi peniru seperti anak kecil.
  3. Pertama, kita latih berbagai bunyi, lalu kata-kata kemudian kalimat. Inilah cara alami yang cocok untuk pembelajaran bahasa asing.
  4. Lihatlah perkembangan wicara anak. Pertama ia mendengar, kemudian ia berkata-kata. Pemahaman selalu mendahulukan pembicaraan. Inilah cara yang tepat dalam belajar bahasa kedua.
  5. Seorang anak kecil mendengar  dan bicara dan tak seorangpun ingin membuatnya membaca dan menulis. Membaca dan menulis adalah tahapan lanjut perkembangan bahasa. Urutan alami untuk pembelajaran bahasa pertama dan kedua adalah mendengar, bicara, membaca dan menulis.
  6. Anda tak perlu menerjemahkan pada waktu anda kecil. Jika anda belajar sendiri bahasa asing tanpa penerjemahan, anda mestinya bisa belajar bahasa kedua (B2) dengan cara yang sama.
  7. Seorang anak kecil menggunakan bahasa begitu saja. Ia tak belajar tatabahasa baku. Anda tidak memberitahunya soal kata benda dan kata kerja. Tetapi ia belajar bahasa secara sempurna. Menggunakan konseptuali gramatikal dalam pengajaran sebuah bahasa asing, sama tidak pentingnya tata bahasa baku bagi anak.

Dari uraian di atas, karakteristik atau sistem pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab yang berkembang dewasa ini tentunya harus ditempatkan sebagai bahasa Ibu, di mana dengan memposisikannya sebagai bahasa ibu, akan menjadikan bahasa kedua ini (bahasa Arab) akan mudah dipelajari dan dipraktikkan oleh para siswa.

 

PENGAJARAN BAHASA ARAB DI DARUNNAJAH

 

Diusia yang ke- 40 tahun sejak berdirinya, Pondok Pesantren Darunnajah, sudah me”wisuda” 37 angkatan, dengan total kurang lebih 17,000 Santri. Perkembangan santri dari santri pertama (1974) hingga tahun 2014 sangat signifikan. Jika santri pertama berjumlah 3 (tiga) orang, maka santri Darunnajah 1 sd Darunnajah 15 pada bulan Maret 2014 berjumlah 8,970 santri. Perkembangan jumlah santri tentunya diikuti dengan perkembangan manajemen pengelolaan: sistem Pendidikan, system pengasuhan, system administrasi dan keuangan, system pemeliharaan dan system hubungan masyarakat.

Bahasa Arab, yang sejak awal berdirinya Pesantren Darunnajah sudah dicanangkan sebagai bahasa resmi di Darunnajah, di samping bahasa Inggris telah mengalami gerak sosial (social mobility), perubahan  dari metode pengajaran dan pembelajaran bahasa,  penggunaan buku pelajaran, naik-turunnya kualitas bahasa Arab pada santri. Hal ini disebabkan banyak faktor, baik dari perkembangan jumlah santri, aturan disiplin, respon stakeholder, dan hal lain yang mempengaruhi perkembangan bahasa.

Namun, dari perkembangan bahasa di Darunnajah, banyak hal yang sudah dan sedang dilakukan Pesantren Darunnajah dalam upaya terus menjadikan dan memposisikan bahasa Arab sebagai Taajul Ma’had – Mahkota Pesantren. Di antara usaha-usaha yang sudah dilaksanakan  Pesantren Darunnajah dalam upaya pemaksimalan penggunaan bahasa Arab, antara lain :

  1. A.   Bidang Kepengasuhan

Bidang Kepengasuhan atau yang biasa disebut Biro Kepengasuhan merupakan salah satu Biro di Pesantren Darunnajah yang membawahi segala urusan kepengasuhan santri di luar kelas, termasuk dalam menaungi Bagian bahasa yang dijalankan oleh santri-santri senior.

Bagian Bahasa (قسم ترقية اللغة) Organisasi Santri Darunnajah, diberikan mandat sepenuhnya untuk pengembangan bahasa dengan melakukan pelbagai kegiatan pengembangan bahasa Arab dan Inggris. Di antara hal-hal yang dilaksanakan Bagian Bahasa antara lain:

1)        Pemberian Mufradat harian

2)        Ujian mufradat

3)        Mewajibkan muhadatsah

4)        Membuat majalah dinding bahasa resmi

5)        Membuat lomba bahasa (pidato, debat, qiraatul kutub, story telling, drama, dan lainnya), seperti Darunnajah Language Competition 2nd Tahun 2013, Darunnajah English Olympic.

6)        Membuat buku panduan muhadatsah

7)        Membuat tulisan-tulisan tasyji`ul lughah

8)        Membuat klub-klub bahasa

9)        Menjalanan mahkamah lughah

10)    Mewajibkan semua kegiatan menggunakan bahasa resmi

11)    Mengikuti seminar-seminar kebahasaan

12)    Melakukan studi banding ke lembaga-lembaga lain

 

  1. B.        Bidang Pendidikan

Bidang pendidikan, yang biasa disebut Biro Pendidikan, membawahi 54 satuan jenjang pendidikan, semua jenjang pendidikan dari Playgroup, TK, SD, MTs, MA, SMA dan SMK baik di Darunnajah 1 maupun cabang. Di antara usaha yang dilakukan dalam rangka pengembangan bahasa Arab adalah di mana pelajaran bahasa Arab dilaksanakan sejak tingkat TK hingga tingkat menengah atas. Namun pembelajaran Bahasa Arab secara intens dilaksanakan pada jenjang Tarbiyatul Mu`allimin-at al-Islamiyah (TMI) yang setara dengan SLTP – SLTA. Secara spesifik hal-hal yang dilakukan, antara lain :

1)        Pengajaran Bahasa Arab di semua jenjang di tingkat MTs dan MA/SMA

2)        Penggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dalam pelajaran keagamaan.

3)        Melaksanakan kegiatan Amaliyah Tadris (Praktik Mengajar) dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris.

4)        Menggunakan laboratorium bahasa Arab dan Inggris sebagai multimedia dalam pembelajaran bahasa.

5)        Mewajibkan seluruh santri dalam penulisan al-Insya al-Yaumi (Arab) dan Daily Composition (Inggris) setiap hari dan dikoreksi oleh musyrif.

6)        Melakukan pengajaran kitab kuning sebagai media memahami kutub turats dan media latihan memahami teks bahasa Arab

7)        Menghadirkan native speaker untuk menunjang pembelajaran bahasa asing. Adapun kerjasama yang sudah dilakukan Darunnajah dalam rangka menghadirkan native speaker antara lain:

a)   Kerjasama dengan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, sejak tahun 1991-sekarang (23 tahun), dengan mengutus mab`uts Azhar untuk membantu langsung dalam peningkatan bahasa Arab.

b)   Kerjasama dengan Universitas Islam Madinah (UIM) dalam rangka al-Daurah al-Tadribiyyah fi al-Lughah al-Arabiyyah wa al-Tsaqafah al-Islamiyah wa al-Muqabalah (Pelatihan Bahasa Arab dan Tsaqafah Islamiyah dan Muqabalah) sejak tahun 2009-sekarang

c)    Kerjasama dengan Holy Family Schol (HFCS), salah satu sekolah menengah di Keighley, West Yorkshire Inggris, sejak tahun 2006-sekarang, dalam kegiatan pertukaran guru dan siswa.

8)        Mengikuti kegiatan-kegiatan lain sebagai realisasi peningkatan bahasa asing, seperti:

a)   Pertukaran pelajar dalam kegiatan Youth Exchange and Studies Programme  di Amerika Serikat, sudah mengirim 13 siswa

b)   Young Ambassador Program (Duta Belia) Departemen Luar Negeri ke Australia, Jepang, Thailand, Vietnam dan Philipina.

c)    Jambore Dunia di berbagai negara, Thailand, Australia, Korea Selatan, Jepang, Saudia Arabia, Mesir, Belanda dan Brunei.

d)   Daurah Peningkatan Bahasa bagi guru-guru, di beberapa lembaga di luar negeri:

  1. Universitas Al-Azhar Cairo Mesir
  2. Arab Academy, Cairo Mesir
  3. Universitas Ummul Qura, Makkah, Saudi Arabia
  4. Universitas Hallab, Alleppo, Suriah

   e) Program Darmasiswa bagi mahasiswa asing yang didanai sepenuhnya oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia sejak tahun 2011; Senegal, Ceko Slovakia dan Myanmar

Demikian beberapa hal yang dilakukan Pesantren Darunnajah dalam upaya pengembangan dan peningkatan bahasa Arab.

Penutup

Pada dasarnya, dalam teori perkembangan bahasa asing, terutama bahasa Arab di pesantren tidak terlepas dari faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan berbahasa seseorang yaitu metode dan lingkungan (بيئة اللغة) nya.

Penggunakan metode yang sesuai, dan lingkungan yang kondusif menjadi al-`awaamil al-asaasiyyah (faktor mendasar) dalam kesuksesan peningkatan bahasa Arab. Hal ini tampaknya sesuainya dengan teori proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture, bahwa proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian  dibentuk oleh lingkungan mereka dan perlahan-lahan terkondisikan melalui beragam jadwal penguatan.[4]

Ini artinya, sebaik apapun, teori, media, metode, tapi yang terpenting dari itu semua adalah kemauan yang kuat dari santri untuk menguasai dan mempraktikkan bahasa Arab secara langsung dan bagaimana menghidupkan dan mengkondisikan lingkungan bahasa yang kondusif, sehingga mempengaruhi dalam perkembangan bahasa dan kemampuan berbahasa santri.  Toh pada akhirnya –menurut teori psikologi- manusia akan bergerak karena:  kemauan dari dalam diri atau dorongan dari luar.  Wallahu A`lam bis shawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN-LAMPIRAN :

 

  1. 1.      Ujian Mufrodat/Kosakata Santri TMI Darunnajah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      Kegiatan di Laboratorium Bahasa Arab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 3.      Muhadhoroh yang menggunakan B. Arab

 

 

 

 

 

                                                                                                              

 

 


 

  1. 4.      Muhadhoroh ‘Ammah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 5.      Perlombaan Bahasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 6.      Pembukaan perlombaan Bag. Bahasa

 

 

 

 

 

                                                                                                              

 

 


[1]Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. Makalah disampaikan pada Halaqah Bahasa Arab Pondok Pesantren di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, Kamis, 4 Jumadal Ula 1435 H/6 Maret 2014.

[2]Lihat Summaries: “Introduction to Sociolinguistics” by Janet Holmes. Chapter 2

 http://studentcornerq8.blogspot.com/2012/06/summaries-introduction-to_09.html


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: