4 alasan tidak berkembang

16 09 2014

Empat penyebab sekolah menjadi mandek tidak berkembang

http://gurukreatif.wordpress.com/2014/08/25/empat-penyebab-sekolah-menjadi-mandek-tidak-berkembang

Sent from LinkedIn for Android
http://lnkd.in/android

Agus Sampurno @gurukreatif

Guru Profesional dan Kreatif adalah Agen Perubahan Bangsa

Empat penyebab sekolah menjadi mandek tidak berkembang

BvCACd4IAAEWEQwPerubahan adalah hak setiap sekolah yang ingin berkembang. Tanpa perubahan maka sekolah akan jalan ditempat dan akan ditinggalkan oleh orang tua siswa. Namun jangan terkejut apabila ada sekolah yang inginnya langsung jadi sekolah yang besar tanpa mau berubah dan menjalani proses. Mungkin sekolah tersebut mau berkembang, hanya saja kalau boleh memilih, mereka ingin perubahannya yang murah, simpel dan langsung bisa berdampak besar bagi organisasinya serta sedikit saja tanpa mesti melibatkan orang lain.

Padahal kita semua tahu betapa berbahayanya keengganan akan perubahan, dengan kata lain sekolah masuk ke zona nyaman. Jika ada organisasi yang inginnya berubah namun jika dibiarkan memilih mereka inginnya tidak mau jauh-jauh dari zona nyaman, maka berarti siap-siap saja sekolah itu akan terasa hambar dan tanpa greget. Kegiatannya rutinitas semata, hanya melaksanakan yang sudah-sudah, itupun kalau biayanya ada, angka keluar masuk (turn over) gurunya tinggi dan muridnya pun makin lama makin sedikit.

Mengapa ada sekolah yang ‘memilih’ untuk jalan ditempat dan tidak mau berkembang? Ada beberapa hal penyebabnya.

Sekolah tidak mengetahui pasti kemana ‘arah’ mereka sebagai sebuah organisasi pembelajar.
Visi dan misi sekolah mungkin ada, karena sudah merupakan kewajiban dari dinas pendidikan untuk sebuah sekolah mengadakan visi dan misi. Sayangnya sekolah hanya sibuk dengan urusan dari rutin ke rutin. Dari ujian nasional ke ujian nasional berikutnya. Jika ditanya apa perbedaan murid di sekolahnya dengan murid sekolah lain, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Jika ditanya apa perbedaan hasil lulusan antara sekolah itu dengan sekolah lainnya maka jawabannya hanya semata persoalan nilai yang dicapai. Padahal masa depan siswa bukan hanya ditentukan dari nilai tetapi juga oleh karakter dan penguasaan keterampilan hidup yang penting sebagai bekal di masa depan. Jadi untuk tipe sekolah seperti ini, yang penting satu tahun ajaran bisa lewat dengan sukses dilalui tidak masalah jika tanpa inovasi. Menyedihkan bukan? Karena alih-alih melakukan perubahan, berjalan kemana arahnya pun sekolah ini tidak tahu.

Pengelolaan keuangan yang tidak tepat sasaran.
Jangan malu mengakui bahwa sekolah swasta menggunakan prinsip bisnis. Prinsip bisnis diperlukan karena demi tumbuh berkembangnya sekolah itu sendiri secara sehat sebagai lembaga pendidikan formal yang siap dijadikan tempat kepercayaan bagi banyak keluarga-keluarga yang tinggal berada di sekolah itu untuk menyekolahkan putra-putrinya. Bayangkan jika sekolah disubsidi terus menerus, atau tetap berjalan apa adanya dan dibiarkan merugi dan tidak bisa mandiri. Sayangnya karena terlalu khawatir merugi atau akan tutup, banyak sekolah yang terlalu cepat berniat mengambil keuntungan atau terlalu cepat melakukan ekspansi alias pengembangan tanpa mengukuhkan dahulu ‘pondasi’ di dalamnya. Bagi semua yang gunakan prinsip bisnis dengan ‘saklek’ atau dengan hitam putih . Praktek yang dilakukan oleh guru-guru di kelas adalah sebuah pemborosan dalam arti yang sebenar-benarnya. Sehari saja bersama dengan guru-guru di kelas, akan membuat seorang yang berasal dari kalangan pebisnis akan heran karena banyak sekali hal yang akan dianggap sebagai pemborosan. Misalnya kertas yang begitu saja dipakai berlembar-lembar hanya untuk siswa latihan menulis sampai kertas tisu berlembar-lembar yang diperlukan untuk mengelap hidung siswa yang sedang sakit pilek di kelas. Hal-hal yang saya contohkan adalah contoh kecil hal yang mungkin saja dianggap pemborosan namun diperlukan karena sesuai dengan konteks sekolah yang menjadi wadah bagi anak didik untuk berkembang. Dalam banyak kasus sekolah memaksa guru untuk berhemat atau bahkan mempersulit proses permintaan sumber belajar yang sebenarnya sudah menjadi hak siswa, dengan harapan guru yang meminta akan bosan dan malas untuk meminta lagi. Sekolah yang seperti ini akan sulit untuk menerima perubahan karena perubahan selalu dianggap memboroskan biaya dan mengurangi keuntungan sekolah.

Kepemimpinan yang lemah.
Kepemimpinan yang lemah akan membuat sekolah jalan ditempat. Uniknya sebenarnya para pemimpin yang menurut kita punya kepemimpinan yang tidak efektif sebenarnya tahu bahwa cara memimpinnya tidak efektif. Hanya saja rutinitaslah yang membuat seorang pemimpin menjadi kebal terhadap complain dan memilih begitu-begitu saja dalam mengelola sekolahnya. Ada pemimpin sekolah yang katakan, ‘saya ini sudah kebal sama complain dan makian dari orang tua siswa”. Saya pun demikian, saya memilih untuk kebal, namun kebal tanpa mau mencari solusi sama saja membiarkan orang lain menganggap kita ‘bebal’ alias tidak punya perasaan atau cuek terhadap kritik dan umpan balik dari orang lain. Pemimpin tipe seperti ini tidak bisa disalahkan juga, karena sebagai orang dewasa siapa yang tidak mau perubahan dan perbaikan. Namun pilihan berikutnya apakah ia mau memperjuangkan atau memilih untuk tiarap bermain aman atau yang penting ‘yayasan’ atau bos senang.

Guru yang tidak punya motivasi
Ada banyak sebab mengapa guru menjadi sosok yang tidak punya motivasi. Padahal menjadi pendidik mesti punya rasa antusias terhadap semua hal yang menyangkut bidangnya. Guru yang tahunya menjadi guru hanya menjadi pengajar saja mungkin tidak begitu diperlukan lagi di jaman ini. Sekolah yang ingin perubahan akan terbentur oleh sosok guru yang enggan perubahan. Sebab utama bukan masalah kesejahteraan, karena saya juga menjumpai guru yang mengajarnya biasa-biasa saja padahal kesejahteraannya sudah baik bila dibandingkan dengan sesama rekan seprofesi. Guru adalah aktor utama dari semua perubahan yang akan dan sedang terjadi di sekolah. Menyertakan guru adalah langkah terbaik dalam mengubah sebuah sekolah. Jika ingin cepat, melalui yayasan atau kepala sekolah bisa saja meminta dan menyuruh gurunya ini dan itu dan ujung-ujungnya akan frustasi juga karena lambannya guru bergerak. Membuat guru termotivasi pun tidak mudah, perlu langkah dan cara dalam membuat guru merasa bahwa perubahan demi anak didik adalah suatu keharusan.

Ketiga hal diatas sebenarnya hanyalah gambaran kecil dari situasi yang terjadi di sekolah. Kabar baiknya adalah tidak ada yang tidak mungkin, jika sekolah sebagai sebuah organisasi pembelajar ingin perubahan demi perkembangan pasti ada jalan. Di tulisan berikutnya akan saya bahas cara mendampingi sekolah agar bisa maju dan bisa memenuhi harapan para ‘stake holder’.

About these ads

Share this:

Twitter8
Facebook16
LinkedIn8
Cetak
Surat elektronik
Tumblr
StumbleUpon
Google
Pinterest
Sukai ini:

Terkait

Sekolah (baca: belajar) itu bisa murah dan berkualitas adalah bukan mimpiIn “Sekolah sebagai komunitas pembelajar”

Refleksi setahun menjadi kepala sekolahIn “Sekolah sebagai komunitas pembelajar”

6 tanda sekolah anda perlu berubahIn “Sekolah sebagai komunitas pembelajar”

25 Agustus 2014 1 Reply
Post navigation

« Sebelumnya
Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nama *

Surel *

Situs web

Komentar

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML:

   

Beri tahu saya komentar baru melalui email.

rendraprihandono pada 26 Agustus 2014 pukul 3:40 am
Reblogged this on Rendra Prihandono * MINDSET Empowerment.

Balas
Kontak saya

Twitter @gurukreatif Email a.sampurno[a]gmail.com Hp 0813-15590729
Penulis blog ini Agus Sampurno

Kepala sekolah di Ananda Islamic School Jakarta Barat, penggiat penggunaan Sosial Media dan teknologi di sekolah. Senang berbagi pengetahuan dan pengalaman selama 10 tahun lebih di sekolah internasional. Bangga jadi guru Indonesia dan percaya bahwa guru profesional adalah agen perubahan bangsa. Aktif memberi inspirasi bagi guru rekan sesama guru lewat workshop dan seminar.

Saya di twitter

RT @USBI_Indonesia: USBI Friends! Yuk ikutan Teaching with Technologi Workshop bareng USBI 17-19 September 2014 goo.gl/3K8qih #USB… 13 hours ago
RT @we_theteachers: What is #funteaching for you? @bincangedukasi @edutopia @gurukreatif @amandapiwit 4 days ago
Berbahaya jika guru baru diminta menyesuaikan diri begitu saja dgn kultur sekolah, apalagi dgn kultur yg negatif 4 days ago
Saat masuk guru baru mesti ditanya oleh kepsek apa hal yg kamu bisa inspirasikan ke kami2 guru yg masuk lebih dahulu 4 days ago
RT @seizeurfuture: Yuk simak akan sharing tentang #DidikAnakHebat bantu retweet yak kak @bukik @gurukreatif @bukik @bincangedukasi 4 days ago

Tanggal terbit tulisan saya

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Komentar

SAKINAH MATHAR on Jati diri seorang guru di duni…
cukupakusatu on Tips menghadapi anak ‘na…
rendraprihandono on 8 cara mengukur perencanaan pe…
rendraprihandono on Tips menjadi sekolah swasta ya…
rendraprihandono on Empat penyebab sekolah menjadi…
agusampurno on Refleksi setahun menjadi kepal…
agusampurno on Langkah mudah mempromosikan se…
agusampurno on Tips menghadapi anak ‘na…
agusampurno on Cara sukses hadapi akreditasi…
agusampurno on Belajar mengenai konsep mengaj…
Sedang membaca bersama anda sekarang

website counter
Cari topik yang anda perlukan

Cari   
Top Posts

Serba-serbi memajang hasil karya siswa (mendisplay) di ruang kelas. Laporan dari workshop tentang display di SD Islam Mentari Arridho Pulo Gebang Cakung Jakarta Timur (2)
5 cara menjadi guru yang kreatif
Tips menghadapi anak 'nakal' dan 'bandel'
Tips mendisiplinkan siswa tanpa harus menghukum
12 Cara Menjadi Guru yang Baik
11 tips meredakan ribut, gaduh atau bising dikelas.
Contoh-contoh komentar atau narasi di raport
Tips menjadi guru yang disukai siswa
Langkah mudah mempromosikan sekolah anda
Cara sukses hadapi akreditasi sekolah
View Full Site

Blog pada WordPress.com.

Now Available! Download WordPress for Android


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s