Pendidikan di Pesantren

9 12 2016

wp-1451304359537.jpeg

Pendidikan di Pesantren menanamkan

  1. Pengarahan
  2. Penugasan
  3. Pelatihan
  4. Pembiasaan
  5. Pengawalan dan Pengawasan
  6. Keteladanan




PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH DONATED LAND AND BUILDINGS EQUALS TO USD$ 119 MILLIONS FOR EDUCATION

25 12 2015

PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH DONATED LAND AND BUILDINGS EQUALS TO USD$ 119 MILLIONS FOR EDUCATION

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta now belongs to all Muslims and doesn’t belong to the founder or its big family anymore.
Witnessed by some State officials and guests, Pesantren located on jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan No 86, South Jakarta, donated 602 hectare area of land that equals to 1,6 trillion rupiahs for education.
This is the entrust from KH. Abdul Manaf Mukhayyar as the wakif and the founding father of Pondok Pesantren Darunnajah” said KH. Saifuddin Arief, S.H.,M.H., the Chairman of Darunnajah Foundation to the Press at Pondok Pesantren Darunnajah, South Jakarta, Saturday (28/11/2015).
The Second signing program of Wakaf certificate and buildings to celebrate the summit celebration of the 54th Anniversary of Darunnajah is attended by The Vice President of Republic of Indonesia, Mr. Jusuf Kalla, The Minister of Religion Affairs, Lukman Hakim Saifuddin, The Vice Speaker of Indonesia People’s Assembly, M. Hidayat Nur Wahid, The Vice Speaker of the House of Representatives of the Republic of Indonesia Fadli Zon, and Ambassadors from the neighborhood countries: Saudi Arabia, Egypt, Turkey and Qatar.
Pondok Pesantren Darunnajah is established by KH. Abdul Manaf Mukhayyar, Lieutenant Colonel (ret) Drs. H. Kamaruzzaman and KH. Drs. Mahrus Amin. KH. Abdul Manaf Mukhayyar, the Founder is a Muslim Scholar and also the warrior of Indonesia. He involved in war around Rawa Belong, Kebayoran Lama and Palmerah. Written in Majalah Pesan in 1989 that Abdul Manaf and his father opened a public kitchen for Indonesian warrior during the revolution era.

Darunnajah Wakaf Assets
The founding father and The Principal of Pondok Pesantren Darunnajah, K.H. Mahrus Amin said that in 2015, The assets of Darunnajah land donation (wakaf of land) is 677,5 hectares which spread all over Indonesia such as Jakarta, Bogor, Bandung, Banten, Lampung, Bengkulu, Riau and Kalimantan.
Another assets of Darunnajah wakaf are educational institutions, buildings, agriculture businesses, etc. Those wakaf assets need a well-management to be more productive.
“Pesantren Darunnajah wakaf management concept is based on the purpose of of Islamic Law (Maqashid al- Syari’ah), which is to realize and create benefits (maslahat ) and to avoid the disadvantages (mudharat). The purpose of Wakaf is to bring someone closer to Allah and helping people for humanity, and it must be institutionalized to make it more optimal and has no ending. Wakaf could be living or non living materials, and money”, explain K.H. Mahrus Amin.
As an independent Pesantren, Darunnajah also owns economical business units of Darunnajah foundation which is run by self management principle. It means that all capital and fund come from Darunnajah foundation. The benefits from this unit is used for pesantren development.
“None of the benefits is given to the member of Darunnajah foundation board, so that they can keep their ‘Iffah’ or stay away from taking profit from pesantren or if they have to, they can get only for “ghurfatan biyadihi” or a little scoop of hand”, said K.H. Mahrus Amin.
Now Pesantren Darunnajah is spread all over Indonesia, not only in Ulujami South Jakarta but also in Cipining,

  1. Bogor (Darunnajah 2),
  2. Serang Banten (Darunnajah 3 Al-mansur),
  3. Padarincang Serang (Darunnjah 4 Tsurayya),
  4. Cikeusik (Annahl Darunnajah 5),
  5. Muko Muko Bengkulu (Annakhil Darunnajah 6),
  6. Nunukan, East Kalimantan (Jaziratunnajah Darunnajah 7).
    Another branches of Darunnajah are Cidokom Parung Bogor (Annur Darunnajah 8)
  7. Pamulang Tangerang Selatan (Al Hasanah Darunnajah 9),
  8. Pesanggrahan Jakarta Selatan (Daud Ali – Darunnajah 10),
  9. Seluma Bengkulu (Al Barokah-Darunnajah 11),
  10. Dumai Riau (Al Barokah, Darunnajah 12),
  11. Cidokom Parung (Pesantren Tahfidz Al Qur’an Rabi’ul Qulub Darunnajah 13),
  12. Pabuaran – Serang Banten (Nurul Ilmi, Darunnajah 14),
  13. Teluk Segara Bengkulu (Pesantren Tahfidz Qur’an Muhammad Amin – Darunnajah 15),
  14. Lampung (Darunnajah 16), and Serang (Darunnajah 17).

Darunnajah also has many educational institutions from Kindergarten until University.” The things that make Darunnajah get its development is the spirit of ikhlas, Kyai and teachers hard work also the Du’a from the people of Indonesia”, said KH. Saifuddin Arief, The Chairman of Darunnajah Foundation.





Sukseskan Milad 40 tahun Darunnajah

28 02 2012

Sukseskan Milad 40 tahun Darunnajah

شاركونا في إنجاح الذكرى الأربعين سنة لتأسيس معاهد دار النجاح الإسلامية
Let’s Celebrate our 40th Anniversary Together!

Dirintis sejak 1940
Didirikan sejak 1974





Biografi KH Abdul Manaf Mukhayyar

20 02 2012

Mendirikan PB Makmur

Perusahaan Bangunan (PB) Makmur bermula dari sebuah kios kecil. Tanahnya dari lahan hutan yang kemudian dijadikan pangkalan andong (delman). Letatnya strategis karena berada di tikungan rel kereta. PB Makmur dibangun oleh Abdul Manaf dari nol. Dia sendiri yang merintis, memasang telepon hingga menjadi besar setelah mendapat kontrak untuk menjadi agen semen Gresik di Jakarta. Saat itu, tahun 1950-an, perusahaan pribumi yang bisa memasang telepon masih sangat jarang. Abdul Manaf mengendalikan perusahaan ini bersama abangnya, Abdulrahim dan Abdul Karim.

Pada mulanya, PB Makmur berjualan dedak (bekatul untuk makanan kuda), buntil, kombongan (campuran dedak, rumput, dan air). Kalau ada gerobak datang, diberinya air dan dedak. Dari jasa ini, ia mendapat uang 5 sen.

Komoditi yang mulai dijual adalah bambu. Seiring berjalannya waktu, usaha PB Makmur makin besar. Terbukti dari keuntungan berjualan bambu saja, Abdul Manaf bisa membeli tanah di Sukabumi Ilir. Belakangan terlihat Abdul Manaf memang memiliki bakat mengelola perusahaan. Ia bisa membesarkan usahanya dan menambah komoditi yang dijual yaitu papan, pasir, batu kali, hingga akhirnya semen. PB Makmur juga membuka pabrik buis beton dan ubin. Letaknya yang strategis karena dekat dengan stasiun Palmerah, membuat usaha material milik Abdul Manaf mendapat kepercayaan menjadi agen semen Gresik.

Setelah usahanya besar, Abdul Manaf tidak lupa dengan niatnya untuk mendirikan lembaga pendidikan agama dan membangun sekolah untuk orang miskin. Dia juga tidak melupakan jasa Haji Muhammad Kemped dan ayahnya Haji Mukhayyar yang disebutnya sebagai penyumbang terbesar PB Makmur.

Seberapa besar keuntungan PB Makmur yang disumbangkan oleh Abdul Manaf untuk pembangunan lembaga pendidikan? Hasyim Munif, mantan karyawan PB Makmur yang mengurus administrasi menyebutkan, setiap semen yang dijual, Abdul Manaf menyisihkan Rp 1 untuk dipakai sebagai dana sosial. Saat itu (tahun 1960 an), harga satu sak semen adalah 14 rupiah 7 ketip 5 sen. Sebagai perbandingan, saat membeli tanah di Ulujami (kini lokasi Pondok Pesantren Darunnajah) pada tahun 1960 H. Abdul Manaf membayar harga Rp 5 per meter persegi tanah. Dengan kata lain, keuntungan lima zak semen bisa membeli satu meter persegi tanah di Ulujami waktu itu.

Tahun 1964, bersamaan dengan penggusuran kawasan Senayan untuk kompleks DPR/MPR, usaha dagang PB Makmur pun ikut tergusur. Kantor PB Makmur akhirnya dipindah ke Sukabumi Ilir, Kebayoran Lama. Bidang usahanya tidak berubah. PB Makmur masih memproduksi ubin, buis beton dan menjual bahan material lainnya.

Cara Berdagang Abdul Manaf

Dalam berdagang, Abdul Manaf sangat memegang teguh prinsip-prinsip Islam seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Nilai-nilai kejujuran, tidak memakai sistem riba, menjaga amanah dan kepercayaan, serta prinsip saling membantu dan tidak mengejar keuntungan semata adalah hal-hal yang dipegangnya secara teguh.

Beliau pernah didatangi oleh seorang kenalan yang minta diajari cara berdagang. Orang tersebut mengeluh ingin berdagang buis beton tapi tidak tahu cara membuatnya.

Orang tersebut diminta datang pagi-pagi sehabis subuh bila ingin belajar. Benar saja, orang tersebut kemudian tiap pagi datang dan diajari oleh Abdul Manaf dan karyawannya selama beberapa hari. Setelah mahir, orang tersebut menghadap Abdul Manaf dan berkata sudah bisa membuat buis beton tapi tidak bisa menjualnya. Beliaupun menyanggupi untuk menjualnya.

Rupanya sang kenalan masih punya kendala. Dia tidak punya modal untuk membeli barang cetakan buis beton. Menghadapi hal ini, Abdul Manaf tidak marah atau kesal. Orang tersebut justru ditawari untuk memakai alat cetakan yang ada di rumahnya.

Dengan cara tersebut, Abdul Manaf tidak saja memberi peluang orang lain untuk berusaha, tetapi juga membuka jaringan bisnis baru karena yang bersangkutan di kemudian hari menjadi rekan bisnisnya. Beliau tidak takut persaingan. Menurutnya rejeki setiap orang itu sudah diatur Allah.

Mengenal Model Pendidikan Pesantren

Di tengah kesibukannya menjalankan bisnis, Abdul Manaf tak melepas perhatian terhadap dunia pendidikan. Selain mengajar di Madrasah Islamiyah, ia terus berkomunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat yang bergiat dalam pendidikan Islam.

Lewat pondok modern Darunnajah, Abdul Manaf menumpahkan ide dan cita-cita perjuangannya untuk mencetak kader ulama dan melakukan taffaquh fiddin.

Perkenalan Abdul Manaf dengan dunia pesantren bermula ketika mengenal Haji Latif, seorang pemborong jalan dari Kuningan, Karet Tengsin. Haji Latif mendengar Gontor dari bosnya Haji Rais yang kepala DPU Jakarta Raya. Kedua orang tersebut sudah mengirim anaknya untuk belajar ke Gontor. Kepada Abdul Manaf, Haji Latif menyarankan agar menyekolahkan anaknya ke Gontor.

Di Gontor itulah, Abdul Manaf merasakan kecocokan dengan sistem pendidikan yang pernah dialaminya di Jamiatul Khair. Ia juga melihat anak-anak yang dikirim ke Gontor menunjukkan kualitas yang bagus. Sehingga semua anak laki-lakinya pun dikirim ke Gontor untuk belajar.

Walau demikian, Abdul Manaf tidak mengakui ide pendirian pondok pesantren datang dari dirinya. Ia justru menduga rencana mendirikan pesantren justru datang dari Mahrus Amin dan kawan-kawannya yang mengelola Raudhatul Athfal sejak tahun 1961 di Petukangan. Raudhatul Athfal ini kemudian berubah nama menjadi Balai Pendidikan Darunnajah dan menyelenggarakan pendidikan taman kanak-kanak dan madrasah ibtidaiyah. Sedangkan ide pendirian pesantren diyakini atas saran Kiai Imam Zarkasyi, pengasuh Pondok Modern Gontor waktu itu. Hal ini dikuatkan oleh peran alumni-alumni Gontor seperti Mahrus Amin, Hafidz Dasuki, Hasyim Munif, bahkan Nurcholis Madjid dan Abdullah Syukri Zarkasyi (kini pengasuh Pondok Modern Gontor) pada masa awal perintisan Darunnajah. Mereka selain mengajar di Darunnajah Petukangan juga pulang-pergi ke Ulujami yang saat itu masih berupa kebun yang ditanami pohon jinjing.

Membeli Tanah Di Ulujami

Madrasah Islamiyah di Petunduhan, Palmerah, pada tahun 1960 dibongkar karena lokasinya terkena proyek perluasan kompleks Asian Games IV. Tanah yang menjadi lokasi berdirinya madrasah itu diganti rugi oleh pemerintah sekitar Rp 90.000, tidak sampai Rp 100.000,00. Sedangkan bangunannya dibongkar.

Agar cita-citanya tak terhenti, Abdul Manaf mengajak bermusyawarah kawan-kawannya di PB Makmur. Disepakati uang ganti rugi itu dibelikan tanah, Abdul Manaf membeli tanah di kampung Peninggaran, Ulujami. Saat itu wilayah Ulujami secara administratif termasuk wilayah Kecamatan Ciledug, Kabupaten Tangerang.

Dengan harga Rp 5 per meter persegi, uang ganti rugi tersebut tidak mencukupi untuk membeli tanah seluas 5 hektar seperti yang ditempati Pesantren Darunnajah saat ini. Uang Rp 90.000 tersebut hanya cukup untuk membeli tanah kurang dari separuh yang diinginkan. Kekurangannya kemudian ditutupi dari uang PB Makmur dan sumbangan berbagai pihak.

Mendirikan YKMI

Sesudah membeli tanah di Ulujami, Abdul Manaf mendirikan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI).

Pengurus YKMI diketuai H. Muhammad Kosim dengan bendahara H. Abdul Manaf dan sekretarisnya Kamaruzzaman. Meski sebagai penggagas ide, posisi Abdul Manaf sebagai bendahara barangkali didasari oleh statusnya sebagai penyandang dana lewat PB Makmur dan kesibukannya sebagai pebisnis yang tidak memungkinkannya mengurusi aktivitas yayasan secara penuh.

Walau sudah terbentuk YKMI, rupanya yayasan ini tidak secara implisit hendak mendirikan pesantren. Tujuan YKMI adalah mengayomi kegiatan pendidikan untuk menyejahterakan masyarakat Islam di Tanah Air. Sangat terang, tujuan yayasan sangat luas cakupannya dan tidak sekadar menyelenggarakan pendidikan pesantren semata.

Pembentukan YKMI disambut positif tokoh-tokoh masyarakat Petukangan dan Ulujami. Dukungan antara lain dari H. Abdillah Amin, H. Satiri (Ulujami), H Sidik Makmun, H. Sidik, H. Satiri (Petukangan), Abbas dan lain-lain. Bahkan H. Abdillah Amin menyerahkan lembaga pendidikan Raudhatul Athfal di Petukangan untuk bergabung dengan YKMI. Raudhatul Athfal lantas dipimpin oleh Mahrus Amin, alumni KMI Gontor yang mulai menetap di Jakarta sejak 2 Februari 1961.

Raudhatul Athfal yang menyelenggarakan pendidikan setingkat ibtidaiyah, dirasa tidak cocok dengan namanya yang berarti taman kanak-kanak, padahal dibuka juga madrasah ibtidaiyah. Akhirnya pada 1 Agustus 1961, Raudhatul Athfal ini berubah nama menjadi Balai Pendidikan Darunnajah.

Membangun Gedung Madrasah Di Ulujami

Seiring berjalannya waktu, Abdul Manaf makin mantap untuk memilih model pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang akan dibangun di Ulujami. Selain berkonsultasi dengan rekan-rekannya, Abdul Manaf juga meminta masukan kepada gurunya di Jamiatul Khair, Ustadz Abdullah Arfan. Setelah membeli tanah di Ulujami, mantan gurunya itu ditemui.

”Apa tujuan ente membuat sekolah di sana?” tanya ustadz Abdullah Arfan. ”Saya membuat madrasah itu dengan tujuan untuk madrasah Islamiyah ke pendidikan agama Islam, bukan untuk umum, tidak. Khususnya terutama untuk taffaquh fiddin,” jawab Abdul Manaf.

Tak lupa saat menunaikan ibadah haji yang pertama kali pada 1962, Abdul Manaf meminta nasihat pada ulama yang ditemui di sana. Di Mekkah, ia bertemu dengan Kiai Abdullah Syafii dan ditanya maksud kedatangannya. ”Saudara ada apa kemari, ada maksud apa?”. Ditanya demikian, Abdul Manaf lantas menerangkan cita-cita dan usaha yang sudah dilakukannya dalam membangun lembaga pendidikan Islam. Saat itu Kiai Abdullah Syafii memberi saran sebagai berikut:

”Sebelum kerja membuat pesantren harus ziarah dulu ke Mekah ini, ke Ka’bah ini!,” ujar Kiai Abdullah Syafii menegaskan. Ia lantas menyambung. ”Insya Allah tujuan kita kalau baik, dikabulkan!,” ujar Abdul Manaf menirukan pesan sang kiai.

Sekembalinya dari Mekkah pada tahun 1962, Abdul Manaf membangun sebuah madrasah di tanah yang dibelinya di Ulujami. Madrasah itu berukuran 30×11 meter dan terdiri dari 4 lokal. Bangunan itu semi permanen, berdinding batu dan berlantai ubin. Ternyata walaupun sudah berdiri, madrasah itu tidak berhasil menarik minat murid untuk belajar. Lokasi yang jauh, sulitnya transportasi dan kurangnya simpati masyarakat adalah hal-hal yang menjadi sebab madrasah itu belum mampu menarik minat.

Di sisi lain, suasana politik menjelang peristiwa G30S/PKI sempat merepotkan pengurus YKMI mewujudkan rencananya. Pada 1963, sekitar 30 orang menyerobot dan mencangkul tanah di Ulujami, namun akhirnya berhasil diatasi.

Tiadanya minat murid untuk belajar di madrasah yang dibangun di Ulujami bertolak belakang kondisinya dengan madrasah Darunnajah di Petukangan. Balai Pendidikan Darunnajah di Petukangan berkembang pesat dan terkenal.

Tiga kali berturut-turut siswa dari Darunnajah Petukangan meraih juara dalam MTQ yang diselenggarakan Al Azhar, sehingga tidak boleh mengikuti lagi musabaqah berikutnya. Demikian pula drumband dan orkes Darunnajah juga sangat dikenal saat itu. Bahkan pada tahun 1964, di Petukangan juga didirikan Tsanawiyah dan TK Darunnajah.

Madrasah di Petukangan lebih maju karena secara ekonomi masyarakat Petukangan lebih makmur saat itu dibanding Ulujami. Lokasinya yang dekat dengan Ciledug dan berada di pinggir jalan raya.

Sebetulnya usaha mendatangkan santri ke Ulujami sudah dicoba pada tahun 1963-1965. Antara tahun 1963-1964, ada 9 santri mukim di Petukangan. Mereka adalah murid Ibtidaiyah Darunnajah dan beberapa murid SMP dari luar Darunnajah setiap sore hingga malam hari dibawa ke Ulujami untuk belajar mengaji. Dibanding jumlah murid di Petukangan yang sekitar 200 orang, jumlah santri di Ulujami memang sangat sedikit.

Pada 1969 Mahrus Amin meminta izin memindahkan gedung Madrasah Ibtidaiyah yang sudah dibangun di Ulujami pada 1962 ke Petukangan untuk kegiatan belajar Madrasah Tsanawiyah Petukangan, Abdul Manaf tak menolaknya. Saat itu, Abdul Manaf sangat merindukan pesantren Darunnajah terwujud. Mahrus juga sudah terlihat memiliki kemampuan mengelola madrasah di Petukangan dan bercita-cita membangun pondok pesantren. Tak heran bila, Mahrus yang sudah menjadi anak menantunya (menikah dengan putri pertama H. Abdul Manaf, Suniyati, pada 30 September 1965) menjadi kader kepercayaan karena bisa menerjemahkan visi Abdul Manaf. Hal lain yang barangkali mendorongnya menyetujui usulan itu adalah kondisi gedung madrasah di Ulujami yang karena tidak digunakan, menjadi kurang terawat. Bahkan pernah suatu ketika gedung madrasah ini roboh.

Sejak pertengahan 1960-an itu, Mahrus memang mendapat peran sentral di Darunnajah. Kepengurusan YKMI yang tidak aktif diisi oleh Mahrus dan kawan-kawan dengan tindakan nyata. Salah satunya dengan usaha deklarasi pendirian pesantren di Petukangan pada peringatan Sewindu Darunnah 30 Maret 1969 yang disaksikan oleh Dr. Mohammad Natsir, Nurcholis Madjid, dan tokoh-tokoh masyarakat. Ketika itu Abdul Manaf menjabat sebagai ketua umum YKMI.

Pranala Luar
(Indonesia) http://darunnajah-cipining.com/biografi-pendiri-pondok-pesantren-darunnajah-k-h-abdul-manaf-mukhayyar/
(Indonesia) http://darunnajah3.com/sekilas-perjuangan-kh-abdul-manaf-mukhayyar-pendiri-pesantren-darunnajah/





Biografi Pendiri Pondok Pesantren Darunnajah K.H. Abdul Manaf Mukhayyar

1 02 2012

Berita Pondok Pesantren Darunnajah Cipining:
January 31, 2012

Biografi Pendiri Pondok Pesantren Darunnajah K.H. Abdul Manaf Mukhayyar

K.H. Abdul Manaf Mukhayyar adalah _wakif_ yaitu orang yang telah
mewakafkan tanahnya untuk lokasi pembangunan Darunnajah. Ia juga
membelanjakan hartanya untuk menggaji guru, membelanjakan uangnya
untuk membangun madrasah, dan menutup biaya operasional pada saat awal
mula pendirian pesantren ini. Abdul Manaf juga penggagas ide pendirian
lembaga pendidikan yang mengajarkan agama Islam dan mencetak
kader-kader ulama.

Di awal tahun 2012 Yayasan Darunnajah sudah memiliki 14 Pesantren di
seluruh Indonesia dengan ribuan santri yang menuntut ilmu agama Islam
didalamnya.

!! *Masa Kecil* !!

K.H. Abdul Manaf Mukhayyar lahir di kampung Kebon Kelapa, Palmerah
pada Kamis 29 Juni 1922 dari pasangan Haji Mukhayyar dan Hj. Hamidah,
Ia adalah anak ke-4 dari 11 bersaudara.

Membayangkan Jakarta tahun 1900-an tentu sangat berbeda dengan saat
ini. Tidak ada Monas, jembatan Semanggi, gedung-gedung bertingkat
apalagi mal dan kemacetan. Jakarta saat itu adalah ibukota Hindia
Belanda yang luasnya tak sampai separuh dari wilayah kota saat ini.
Sebagai ibukota negara, Jakarta saat itu sudah memiliki beragam
fasilitas umum. Kereta api, mobil angkutan, sekolah, pasar, tangsi
tentara dan kantor-kantor perwakilan dagang. Pusat kota ada di
Weltevreden, Glodok, Kota, Jatinegara, Senen, Tanjung Priok dan Tanah
Abang. Kawasan Kebayoran Lama, Ciputat, Kebon Jeruk, dan sebagainya
adalah kawasan pinggiran yang asri.

Sejak kecil, H. Mukhayyar (ayah K.H. Abdul Manaf Mukhayyar) sudah
menanamkan kebiasaan beribadah bagi anak-anaknya. Termasuk kepada
Abdul Manaf. Saat bulan puasa, anak-anaknya diajak ke masjid untuk
salat tarawih. Ayah H. Mukhayyar, H. Bukhori, juga ikut membimbing
cucu-cucunya.

Atmosfer politik di Batavia yang sedang berada dalam masa pergerakan
dan semangat semangat Pan Islam yang sedang tumbuh di kalangan umat
Islam saat itu, mendorong munculnya lembaga-lembaga pendidikan
_gubernemen_ (dikelola pemerintah kolonial) maupun lembaga pendidikan
swasta, yang dua-duanya bisa diakses oleh orang pribumi. Dalam hal
ini, Abdul Manaf mendapat berkah dari situasi yang tidak didapati dari
masa hidup ayah atau kakeknya. Oleh H. Mukhayyar, ia dikirim untuk
belajar di sekolah Belanda, dan sore harinya belajar mengaji ke
madrasah.

Sesungguhnya, tidak semua orang bisa mengirimkan anaknya belajar di
sekolah Belanda saat itu. Umumnya hanya orang-orang yang secara
ekonomi mampu atau memiliki kedudukan di pemerintahan saja yang bisa
melakukannya. Abdul Manaf kecil termasuk beruntung karena H. Mukhayyar
termasuk orang kaya. Ia memasukkan Abdul Manaf ke _Volksschool_
(sekolah dasar) selama tiga tahun di Pengembangan Palmerah pada usia
10 tahun. Dari _Volksschool ,_ Abdul Manaf melanjutkan ke
_Vervolegschool_ (sekolah lanjutan) selama dua tahun.

Selain belajar di sekolah, sore hari selepas pulang dari
Vervolegschool, Abdul Manaf muda mengikuti pengajian di rumah Haji
Sidik di Bendungan Hilir. Kondisi jalan saat itu yang becek, belum ada
jembatan permanen, dan kanan-kirinya ditumbuhi semak-belukar berduri,
ditempuh oleh Abdul Manaf dari Palmerah menuju Bendungan Hilir dengan
berjalan kaki.

Dengan kekayaan yang dimilikinya, H. Mukhayyar tidak memanjakan
anak-anaknya. Anak-anak, termasuk Abdul Manaf, justru didorong untuk
bekerja dan tidak bermalas-malasan. Untuk mendapatkan uang, mereka
harus bekerja. Anak-anak diberi contoh cara memanfaatkan waktu
sebaik-baiknya sekaligus berlatih mandiri. Siang atau sore hari,
anak-anak H. Mukhayyar disuruh _ngreret_ (membuat tali dari pelepah
pisang yang kering). Tali-tali itu kemudian disuruh dijual ke pedagang
tembakau. Uang hasil penjualannya, dipercayakan kepada anak-anaknya
untuk digunakan. H. Mukhayyar juga menceritakan kepada anak-anaknya
pengalaman pernah menjadi kuli pembangunan rel kereta api Palmerah.
Hal itu sebagai bentuk contoh dan semangat yang diberikan H. Mukhayyar
agar anak-anaknya tak malu bekerja kasar sekalipun asalkan halal.

Didikan orang tuanya itu memang membuat Abdul Manaf terbiasa bekerja
keras, ulet, sederhana, mandiri, dan rajin menabung. Selain mengaji
dan bersekolah, waktu luang Abdul Manaf diisi dengan membantu orang
tuanya berjualan daun pisang, mencangkul, membuat tali dari pelepah
pisang, dan berjualan kayu kering. Dengan cara ini, Abdul Manaf bisa
membiayai pendidikannya sejak kecil.

!! *Belajar Di Jamiat Khair* !!

Setamat dari _Vervolegschool_, Abdul Manaf meminta izin kepada orang
tuanya untuk belajar di Jamiat Khair yang terletak di daerah Karet,
Tanah Abang. Ini adalah lembaga pendidikan madrasah yang sangat maju
pada masanya. Murid-murid di madrasah ini diajar bahasa Arab dan
guru-gurunya kebanyakan dari Timur Tengah. Pada saat itu, Jamiatul
Khair termasuk sekolah terpandang karena para muridnya umumnya dari
kalangan orang-orang Arab yang kaya. Abdul Manaf adalah perkecualian.
Meskipun ia bukan keturunan Arab, tetapi ia diterima dan belajar di
sekolah yang di kemudian hari menjadi inspirasinya untuk mendirikan
Pesantren Modern Darunnajah.

Madrasah Jamiat Khair mengajarkan pelajaran umum dan pelajaran agama
sekaligus. Selain bahasa Arab sebagai utama, bahasa Inggris dan Melayu
juga digunakan sebagai bahasa pengantar. Guru-guru pengajarnya
didatangkan dari Arab walaupun ada juga guru dari orang _boemipoetra_
seperti H. Muhammad Mansyur yang dipercaya mengajar karena mampu
berbahasa Arab dan ahli dalam bidang agama.

Sebagai sekolah modern, Jamiatul Khair tidak menerapkan sistem pondok
sehingga murid-muridnya tidak diinapkan. Abdul Manaf pun pulang-pergi
setiap hari dengan berjalan kaki Palmerah-Tanah Abang. Sampai-sampai
meskipun hujan lebat, Abdul Manaf tidak pernah absen untuk berangkat
sekolah. Berganti baju di ruang sekolah adalah hal biasa baginya.
Guru-gurunya pun maklum dan tidak pernah marah karena Abdul Manaf
dikenal murid yang rajin dan tekun dalam belajar.

Abdul Manaf masuk ke Jamiatul Khair pada 1938. Beberapa gurunya saat
itu adalah Ustadz Dziya’ Syahab yang juga nadzir (semacam direktur
atau kepala sekolah), Ustadz Abdullah Arfan, Ustadz Hadi Jawa, dan
Ustadz Ahfas dari Kebon Jeruk, Ustadz Haji Zakaria dari Lampung,
Ustadz Hasyim dan Ustadz Sholeh dari Kebon Sirih.

Di Jamiatul Khair, Abdul Manaf mula-mula masuk di tingkat Tahdiriah
(persiapan). Kemudian ia menempuh tingkat Ibtidaiyah (6 tahun) dan
menyelesaikan studi pada 1942. Ia berhasil menguasai bahasa Arab yang
memang ditekankan sebagai alat untuk mempelajari ilmu-ilmu Islam di
sekolah ini.

Abdul Manaf juga sempat belajar bahasa Belanda pada tahun 1942 untuk
menambah pengetahuannya, hanya saja hal itu hanya berlangsung selama 2
bulan karena penggunaan bahasa Belanda dilarang akibat datangnya
penjajah Jepang di tanah air. Bahasa Belanda tidak diajarkan di Jamiat
Khair. Sebagai gantinya, bahasa Inggris diajarkan sebagai pelajaran
wajib.

Sebenarnya setelah Ibtidaiyah, masih ada tingkat Tsanawiyah yang
ditempuh selama 3 tahun. Lulusan Tsanawiyah Jamiat Khair bisa
melanjutkan ke Mekkah atau ke Mesir. Namun Abdul Manaf tak
mengambilnya. Datangnya penjajahan Jepang dan kesulitan ekonomi
agaknya menjadi alasannya kala itu.

Pada 1939, saat menempuh studi di Jamiat Khair inilah, muncul ide
dalam diri Abdul Manaf untuk mendirikan madrasah dengan sistem modern.
Ide ini diwujudkan dengan mendirikan Madrasah Islamiyah pada 1942
dengan sistem pengajaran modern mencontoh Jamiatul Khair pada 1942.
Saat itu, Abdul Manaf belum mengenal pola pondok pesantren.

Selain madrasah untuk mengajarkan agama, Abdul Manaf juga memiliki
niat mendirikan sekolah gratis untuk orang fakir. Niat ini didorong
oleh pengalaman pribadi saat merasakan beratnya membayar iuran bulanan
saat belajar di Jamiatul Khair. Bahkan Abdul Manaf pun sempat tidak
sanggup membayar iuran bulanan. Tetapi menjelang kelulusannya hutang
iuran itu dibebaskan. Sejak saat itulah timbul keinginan untuk membuka
sekolah gratis bila menjadi orang kaya kelak.

Ketidaksanggupan Abdul Manaf membayar iuran belajar bulanan karena
orang tua Abdul Manaf, H. Mukhayyar meskipun kaya tetapi tidak
memberikan uang untuk anaknya agar mereka belajar mandiri. Abdul Manaf
berdagang untuk membayar biaya sekolahnya.

Niat mulia mendirikan sekolah juga tak lepas dari pesan guru-gurunya
di Jamiatul Khair yang selalu diingatnya. Pesan itu antara lain agar
Abdul Manaf menjadi orang jujur, tidak mengesampingkan pendidikan,
selalu salat berjamaah dan tidak melupakan kaum fakir miskin. Konon
saat masih duduk di bangku Jamiatul Khair, Abdul Manaf pernah menulis
kata-kata dalam bahasa Arab pada salah satu kitab dengan bunyi _idza
sirtu ghaniyyan aftah madrasah lil fuqara’ majjanan__._ Artinya: Kalau
saya jadi orang kaya, saya akan membuka sekolah gratis untuk anak-anak
yang tidak mampu.

!! *Mendirikan Madrasah Islamiyah* !!

Sebelum Madrasah Islamiyah didirikan, Abdul Manaf sebenarnya sudah
merintis pengajaran agama di rumah orang tuanya. Yang pertama-tama
dilakukan adalah mengajar adik-adiknya yang berjumlah 7 orang di
paviliun rumah orang tuanya di Kebon Kelapa, Palmerah. Mereka diajari
cara melakukan salat, dan membaca Al Quran, dan lain-lain. Hal itu
dilakukan cukup lama sampai berbulan-bulan. Lama-lama anak-anak
peserta pengajian ini makin banyak dan tidak terbatas kepada
adik-adiknya. Keponakan dan kerabatnya ikut diajar mengaji di rumah
tersebut.

H. Mukhayyar yang melihat inisiatif anaknya itu kemudian menyuruh
Abdul Manaf membuat pengajian di rumah dengan mengundang para
anak-anak tetangga dan kerabat. Kegiatan pengajian dan pengajaran
kepada anak-anak itu berjalan 3 tahun (1939-1942).

Pada tahun 1942, H. Mukhayyar kemudian mendirikan Madrasah Islamiyah
yang berlokasi di samping rumahnya di depan Stasiun Palmerah. Madrasah
yang dipimpinnya itu sangat sederhana. Bangunannya berlantai tanah,
atapnya dari daun kelapa, dindingnya pagar dan letaknya di tengah
kampung. Madrasah ini ditangani sendiri oleh Abdul Manaf. Selama jaman
Jepang, madrasah tetap bisa dipertahankan hingga tahun 1945 ketika
Indonesia merdeka. Memang selama pendudukan Jepang, Abdul Manaf cukup
beruntung. Ia masih bisa meneruskan belajar di Jamiatul Khair
sementara kawan-kawan seusianya ada yang direkrut menjadi anggota
Keibodan, atau mengikuti latihan kemiliteran yang digelar Jepang.

Saat revolusi fisik muncul pasca kemerdekaan dan timbul gejolak
perlawanan rakyat terhadap pasukan Sekutu dan Belanda yang mencoba
menjajah Indonesia lagi, kegiatan madrasah vakum. Kondisi keamanan
saat itu tidak memungkinkan madrasah untuk melaksanakan kegiatan.
Lagipula rakyat memilih mengungsi atau bergabung dengan laskar-laskar
perlawanan. Pada 1946, Abdul Manaf yang baru dikarunia seorang anak
bernama Suniyati, buah perkawinannya dengan Tsurraya, mengungsi ke
rumah kerabatnya. Ia berpindah-pindah hingga akhirnya menetap di
kampung Sukrenda, Ciomas, Serang, Banten selama lebih kurang 3 tahun.
Di kampung inilah lahir anak keduanya bernama Saifuddin Arief.

Usai agresi militer Belanda ke-2, kira-kira tahun 1949 Abdul Manaf
kembali ke Palmerah dan segera berinisiatif membangun kembali madrasah
Islamiyah yang pernah ditutup tiga tahun sebelumnya. Warga dan tokoh
di Kebon Kelapa dilibatkan dalam pembangunan kembali madrasah itu
dengan harapan madrasah bisa dibangun lebih luas. Tempatnya masih
tetap di Kebon Kelapa Palmerah.

Usaha pembangunan kembali itu berjalan lancar. Tahun itu juga,
madrasah Islamiyah sudah menerima murid. Lokasinya juga lebih
strategis karena terletak di pinggir jalan Petunduhan (sebelah utara
SMU 24 saat ini), dekat dengan rel kereta api dan luas tanahnya 500
m2. Kelak, pada tahun 1960, tanah itu dibeli oleh Pemerintah karena
lahannya dijadikan lokasi proyek Asian Games IV.

Ada kisah mengharukan dibalik pembelian tanah ini. Sebelum membeli
tanah Abdul Manaf meminta izin kepada istrinya Tsurayya. Manaf
mengambil cincin berlian istrinya dan meminta cincin itu untuk biaya
pembelian tanah. Rupanya sang istri tidak keberatan bahkan mendukung
rencananya. Cincin itu pun dijual dan uang hasil penjualannya dipakai
membeli tanah di Petunduhan. ”Saya ingat sekali cincin berliannya
saya ambil, saya minta dengan ikhlas, diserahkan, saya jual, saya beli
itu tanah.” Begitu penuturan beliau.

Bersama beberapa pemuka-pemuka masyarakat setempat, Abdul Manaf
membangun madrasah dengan ukuran 11 x 25 meter. Kondisinya lebih baik
dari pada madrasah sebelumnya yang dibangun di atas tanah mililk orang
tua. Madrasah Islamiyah di Petunduhan ini berlantai ubin, menggunakan
atap genteng, dan dindingnya memakai tembok.

Untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar, dia merekrut guru-guru dari
luar Palmerah seperti dari Depok, Padang, dan lain-lain. Ada juga guru
perempuan dan tenaga tata usaha. Abdul Manaf juga membagi waktunya
untuk berdagang dan mendirikan Perusahaan Bangunan Makmur (PB Makmur)
yang lokasinya sama-sama di Jalan Petunduhan.

Menurut K.H. Muhammad Aminullah, Madrasah Islamiyah semula dikelola
oleh Abdul Manaf dan kakak iparnya Mukhtar Kholil (suami dari Marfuah,
kakak Abdul Manaf). Bangunan madrasah terletak di antara rumah kedua
kakak beradik itu.

Madrasah Islamiyah di Petunduhan saat itu sudah menyelenggarakan
kegiatan secara teratur. Setiap akhir tahun diadakan haflah, pidato,
dan diskusi-diskusi. Selain untuk kegiatan pendidikan, Abdul Manaf
juga kerap mengumpulkan pemuda-pemuda di Palmerah untuk bermusyawarah
di madrasahnya.

Pertemuan dan diskusi yang dilakukan Abdul Manaf dan pemuda-pemuda
Palmerah saat itu, pada akhirnya mengerucut ke ide membentuk yayasan
yang menaungi cita-cita pembentukan pondok pesantren. Yayasan ini
kemudian bernama YKMI dan diketuai Mohammad Kosim. Abdul Manaf
bertindak sebagai bendahara dan Kamaruzzaman sebagai sekretarisnya.

!! *Berjuang Membela Republik* *Indonesia* !!

Majalah _Pesan_ pada tahun 1989, memuat profil Abdul Manaf dalam salah
satu artikelnya. Disebukan bahwa pada masa revolusi fisik, Abdul Manaf
dibantu ayahnya membuka dapur umum untuk keperluan para pejuang. Dia
juga turut memanggul senjata di sekitar wilayah Rawabelong, Kebayoran
Lama dan Palmerah.

!! *Membangun Masjid Al Falah* !!

Semasa mengasuh Madrasah Islamiyah di Petunduhan Palmerah, Abdul Manaf
juga aktif mendirikan majelis taklim, mengajar agama Islam di SR
(Sekolah Rakyat) Palmerah, dan aktif sebagai fungsionaris Masyumi di
Palmerah. Semangat untuk berdakwah lewat dunia pendidikan sangat
tinggi. Hal itu diakui oleh teman-teman, saudara, dan murid-muridnya.

Pada tahun 1950-1952, Abdul Manaf bersama warga dan tokoh masyarakat
setempat mendirikan majelis taklim Masjid Al Falah (sekarang di
Departemen Kehutanan, kompleks Manggala Wana Bhakti). Majelis ini
diasuh oleh Abdul Manaf bersama Ustadz Abdullah Arfan, gurunya di
Jamiatul Khair. Terhitung sejak pertama kali dibentuk pada tahun 1950,
majelis taklim yang dibentuk Abdul Manaf dan Abdullah Arfan bertahan
selama 35 tahun.

!! *Menjadi Pedagang* !!

Bakat dagang Abdul Manaf tidak bisa dipungkiri tertular dari jiwa
usaha ayahnya H. Mukhayyar. Sejak muda, H. Mukhayyar sudah dikenal
sebagai orang kaya di kampungnya. H. Mukhayyar sebenarnya berprofesi
utama sebagai petani. Namun ia pernah juga berniaga dengan berdagang
hasil bumi seperti buah-buahan, sayuran, dan berjualan hewan ternak
yaitu sapi.

Salah satu sifat H. Mukhayyar adalah ulet, hemat dan suka bekerja
keras. Sifat ini di kemudian hari menurun kepada Abdul Manaf.

H. Mukhayyar juga gemar menabung. Ketika masih kecil dan kerap
membantu orang tuanya, H. Bukhori, ia sering mendapat uang saku yang
sebagian ditabung di lubang pohon kelapa yang tumbuh di depan
rumahnya. Kegiatan menabung ini dilakukan dari kecil hingga menikah.
Dengan uang tabungan itulah, H. Mukhayyar bisa membeli tanah.
Tanah-tanah itu kemudian ditanami sayuran dan buah-buahan.

Selain dari bertani, H. Mukhayyar juga berdagang sapi. Usahanya maju.
Bahkan sapi-sapinya sampai dikirim ke Pakistan. Beliau berdagang sapi
selama 7 tahun dari tahun 1936.

Mengikuti jejak ayahnya, Abdul Manaf juga mulai berdagang sejak kecil.
Ia membantu ayahnya berjualan daun pisang di stasiun Palmerah. Abdul
Manaf juga membuat tali dari pelepah pisang untuk dijual ke pedagang
tembakau. Uang hasil dagangannya ini dipakai untuk membiayai
sekolahnya di Jamiat Khair.

!! *Mendirikan PB Makmur* !!

Perusahaan Bangunan (PB) Makmur bermula dari sebuah kios kecil.
Tanahnya dari lahan hutan yang kemudian dijadikan pangkalan _andong_
(delman). Letatnya strategis karena berada di tikungan rel kereta.
PB Makmur dibangun oleh Abdul Manaf dari nol. Dia sendiri yang
merintis, memasang telepon hingga menjadi besar setelah mendapat
kontrak untuk menjadi agen semen Gresik di Jakarta. Saat itu, tahun
1950-an, perusahaan pribumi yang bisa memasang telepon masih sangat
jarang. Abdul Manaf mengendalikan perusahaan ini bersama abangnya,
Abdulrahim dan Abdul Karim.

Pada mulanya, PB Makmur berjualan dedak (bekatul untuk makanan kuda),
buntil, kombongan (campuran dedak, rumput, dan air). Kalau ada gerobak
datang, diberinya air dan dedak. Dari jasa ini, ia mendapat uang 5
sen.

Komoditi yang mulai dijual adalah bambu. Seiring berjalannya waktu,
usaha PB Makmur makin besar. Terbukti dari keuntungan berjualan bambu
saja, Abdul Manaf bisa membeli tanah di Sukabumi Ilir. Belakangan
terlihat Abdul Manaf memang memiliki bakat mengelola perusahaan. Ia
bisa membesarkan usahanya dan menambah komoditi yang dijual yaitu
papan, pasir, batu kali, hingga akhirnya semen. PB Makmur juga membuka
pabrik bis beton dan ubin. Letaknya yang strategis karena dekat dengan
stasiun Palmerah, membuat usaha material milik Abdul Manaf mendapat
kepercayaan menjadi agen semen Gresik.

Setelah usahanya besar, Abdul Manaf tidak lupa dengan niatnya untuk
mendirikan lembaga pendidikan agama dan membangun sekolah untuk orang
miskin. Dia juga tidak melupakan jasa Haji Muhammad Kemped dan ayahnya
Haji Mukhayyar yang disebutnya sebagai penyumbang terbesar PB Makmur.

Seberapa besar keuntungan PB Makmur yang disumbangkan oleh Abdul Manaf
untuk pembangunan lembaga pendidikan? Hasyim Munif, mantan karyawan PB
Makmur yang mengurus administrasi menyebutkan, setiap semen yang
dijual, Abdul Manaf menyisihkan Rp 1 untuk dipakai sebagai dana
sosial. Saat itu (tahun 1960 an), harga satu sak semen adalah 14
rupiah 7 ketip 5 sen. Sebagai perbandingan, saat membeli tanah di
Ulujami (kini lokasi Pondok Pesantren Darunnajah) pada tahun 1960 H.
Abdul Manaf membayar harga Rp 5 per meter persegi tanah. Dengan kata
lain, keuntungan lima zak semen bisa membeli satu meter persegi tanah
di Ulujami waktu itu.

Tahun 1964, bersamaan dengan penggusuran kawasan Senayan untuk
kompleks DPR/MPR, usaha dagang PB Makmur pun ikut tergusur. Kantor PB
Makmur akhirnya dipindah ke Sukabumi Ilir, Kebayoran Lama. Bidang
usahanya tidak berubah. PB Makmur masih memproduksi ubin, buis beton
dan menjual bahan material lainnya.

!! *Cara Berdagang Abdul Manaf* !!

Dalam berdagang, Abdul Manaf sangat memegang teguh prinsip-prinsip
Islam seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Nilai-nilai
kejujuran, tidak memakai sistem riba, menjaga amanah dan kepercayaan,
serta prinsip saling membantu dan tidak mengejar keuntungan semata
adalah hal-hal yang dipegangnya secara teguh.

Beliau pernah didatangi oleh seorang kenalan yang minta diajari cara
berdagang. Orang tersebut mengeluh ingin berdagang buis beton tapi
tidak tahu cara membuatnya.

Orang tersebut diminta datang pagi-pagi sehabis subuh bila ingin
belajar. Benar saja, orang tersebut kemudian tiap pagi datang dan
diajari oleh Abdul Manaf dan karyawannya selama beberapa hari. Setelah
mahir, orang tersebut menghadap Abdul Manaf dan berkata sudah bisa
membuat buis beton tapi tidak bisa menjualnya. Beliaupun menyanggupi
untuk menjualnya.

Rupanya sang kenalan masih punya kendala. Dia tidak punya modal untuk
membeli barang cetakan buis beton. Menghadapi hal ini, Abdul Manaf
tidak marah atau kesal. Orang tersebut justru ditawari untuk memakai
alat cetakan yang ada di rumahnya.

Dengan cara tersebut, Abdul Manaf tidak saja memberi peluang orang
lain untuk berusaha, tetapi juga membuka jaringan bisnis baru karena
yang bersangkutan di kemudian hari menjadi rekan bisnisnya. Beliau
tidak takut persaingan. Menurutnya rejeki setiap orang itu sudah
diatur Allah.

!! *Mengenal Model Pendidikan Pesantren* !!

Di tengah kesibukannya menjalankan bisnis, Abdul Manaf tak melepas
perhatian terhadap dunia pendidikan. Selain mengajar di Madrasah
Islamiyah, ia terus berkomunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat yang
bergiat dalam pendidikan Islam.

Lewat pondok modern Darunnajah, Abdul Manaf menumpahkan ide dan
cita-cita perjuangannya untuk mencetak kader ulama dan melakukan
_taffaquh fiddin_.

Perkenalan Abdul Manaf dengan dunia pesantren bermula ketika mengenal
Haji Latif, seorang pemborong jalan dari Kuningan, Karet Tengsin. Haji
Latif mendengar Gontor dari bosnya Haji Rais yang kepala DPU Jakarta
Raya. Kedua orang tersebut sudah mengirim anaknya untuk belajar ke
Gontor. Kepada Abdul Manaf, Haji Latif menyarankan agar menyekolahkan
anaknya ke Gontor.

Di Gontor itulah, Abdul Manaf merasakan kecocokan dengan sistem
pendidikan yang pernah dialaminya di Jamiatul Khair. Ia juga melihat
anak-anak yang dikirim ke Gontor menunjukkan kualitas yang bagus.
Sehingga semua anak laki-lakinya pun dikirim ke Gontor untuk belajar.

Walau demikian, Abdul Manaf tidak mengakui ide pendirian pondok
pesantren datang dari dirinya. Ia justru menduga rencana mendirikan
pesantren justru datang dari Mahrus Amin dan kawan-kawannya yang
mengelola Raudhatul Athfal sejak tahun 1961 di Petukangan. Raudhatul
Athfal ini kemudian berubah nama menjadi Balai Pendidikan Darunnajah
dan menyelenggarakan pendidikan taman kanak-kanak dan madrasah
ibtidaiyah. Sedangkan ide pendirian pesantren diyakini atas saran Kiai
Imam Zarkasyi, pengasuh Pondok Modern Gontor waktu itu. Hal ini
dikuatkan oleh peran alumni-alumni Gontor seperti Mahrus Amin, Hafidz
Dasuki, Hasyim Munif, bahkan Nurcholis Madjid dan Abdullah Syukri
Zarkasyi (kini pengasuh Pondok Modern Gontor) pada masa awal
perintisan Darunnajah. Mereka selain mengajar di Darunnajah Petukangan
juga pulang-pergi ke Ulujami yang saat itu masih berupa kebun yang
ditanami pohon jinjing.

!! *Membeli Tanah Di Ulujami* !!

Madrasah Islamiyah di Petunduhan, Palmerah, pada tahun 1960 dibongkar
karena lokasinya terkena proyek perluasan kompleks Asian Games IV.
Tanah yang menjadi lokasi berdirinya madrasah itu diganti rugi oleh
pemerintah sekitar Rp 90.000, tidak sampai Rp 100.000,00. Sedangkan
bangunannya dibongkar.

Agar cita-citanya tak terhenti, Abdul Manaf mengajak bermusyawarah
kawan-kawannya di PB Makmur. Disepakati uang ganti rugi itu dibelikan
tanah, Abdul Manaf membeli tanah di kampung Peninggaran, Ulujami. Saat
itu wilayah Ulujami secara administratif termasuk wilayah Kecamatan
Ciledug, Kabupaten Tangerang.

Dengan harga Rp 5 per meter persegi, uang ganti rugi tersebut tidak
mencukupi untuk membeli tanah seluas 5 hektar seperti yang ditempati
Pesantren Darunnajah saat ini. Uang Rp 90.000 tersebut hanya cukup
untuk membeli tanah kurang dari separuh yang diinginkan. Kekurangannya
kemudian ditutupi dari uang PB Makmur dan sumbangan berbagai pihak.

!! *Mendirikan YKMI* !!

Sesudah membeli tanah di Ulujami, Abdul Manaf mendirikan Yayasan
Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI).

Pengurus YKMI diketuai H. Muhammad Kosim dengan bendahara H. Abdul
Manaf dan sekretarisnya Kamaruzzaman. Meski sebagai penggagas ide,
posisi Abdul Manaf sebagai bendahara barangkali didasari oleh
statusnya sebagai penyandang dana lewat PB Makmur dan kesibukannya
sebagai pebisnis yang tidak memungkinkannya mengurusi aktivitas
yayasan secara penuh.

Walau sudah terbentuk YKMI, rupanya yayasan ini tidak secara implisit
hendak mendirikan pesantren. Tujuan YKMI adalah mengayomi kegiatan
pendidikan untuk menyejahterakan masyarakat Islam di Tanah Air. Sangat
terang, tujuan yayasan sangat luas cakupannya dan tidak sekadar
menyelenggarakan pendidikan pesantren semata.

Pembentukan YKMI disambut positif tokoh-tokoh masyarakat Petukangan
dan Ulujami. Dukungan antara lain dari H. Abdillah Amin, H. Satiri
(Ulujami), H Sidik Makmun, H. Sidik, H. Satiri (Petukangan), Abbas dan
lain-lain. Bahkan H. Abdillah Amin menyerahkan lembaga pendidikan
Raudhatul Athfal di Petukangan untuk bergabung dengan YKMI. Raudhatul
Athfal lantas dipimpin oleh Mahrus Amin, alumni KMI Gontor yang mulai
menetap di Jakarta sejak 2 Februari 1961.

Raudhatul Athfal yang menyelenggarakan pendidikan setingkat
ibtidaiyah, dirasa tidak cocok dengan namanya yang berarti taman
kanak-kanak, padahal dibuka juga madrasah ibtidaiyah. Akhirnya pada 1
Agustus 1961, Raudhatul Athfal ini berubah nama menjadi Balai
Pendidikan Darunnajah.

!! *Membangun Gedung Madrasah Di Ulujami* !!

Seiring berjalannya waktu, Abdul Manaf makin mantap untuk memilih
model pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang akan dibangun
di Ulujami. Selain berkonsultasi dengan rekan-rekannya, Abdul Manaf
juga meminta masukan kepada gurunya di Jamiatul Khair, Ustadz Abdullah
Arfan. Setelah membeli tanah di Ulujami, mantan gurunya itu ditemui.

”Apa tujuan ente membuat sekolah disana?” tanya ustadz Abdullah
Arfan. ”Saya membuat madrasah itu dengan tujuan untuk madrasah
Islamiyah ke pendidikan agama Islam, bukan untuk umum, tidak.
Khususnya terutama untuk _taffaquh fiddin_,” jawab Abdul Manaf.

Tak lupa saat menunaikan ibadah haji yang pertama kali pada 1962,
Abdul Manaf meminta nasihat pada ulama yang ditemui di sana. Di
Mekkah, ia bertemu dengan Kiai Abdullah Syafii dan ditanya maksud
kedatangannya. ”Saudara ada apa kemari, ada maksud apa?”. Ditanya
demikian, Abdul Manaf lantas menerangkan cita-cita dan usaha yang
sudah dilakukannya dalam membangun lembaga pendidikan Islam. Saat itu
Kiai Abdullah Syafii memberi saran sebagai berikut:

”Sebelum kerja membuat pesantren harus ziarah dulu ke Mekah ini, ke
Ka’bah ini!,” ujar Kiai Abdullah Syafii menegaskan. Ia lantas
menyambung. ”Insya Allah tujuan kita kalau baik, dikabulkan!,”
ujar Abdul Manaf menirukan pesan sang kiai.

Sekembalinya dari Mekkah pada tahun 1962, Abdul Manaf membangun sebuah
madrasah di tanah yang dibelinya di Ulujami. Madrasah itu berukuran
30×11 meter dan terdiri dari 4 lokal. Bangunan itu semi permanen,
berdinding batu dan berlantai ubin. Ternyata walaupun sudah berdiri,
madrasah itu tidak berhasil menarik minat murid untuk belajar. Lokasi
yang jauh, sulitnya transportasi dan kurangnya simpati masyarakat
adalah hal-hal yang menjadi sebab madrasah itu belum mampu menarik
minat.

Di sisi lain, suasana politik menjelang peristiwa G30S/PKI sempat
merepotkan pengurus YKMI mewujudkan rencananya. Pada 1963, sekitar 30
orang menyerobot dan mencangkul tanah di Ulujami, namun akhirnya
berhasil diatasi.

Tiadanya minat murid untuk belajar di madrasah yang dibangun di
Ulujami bertolak belakang kondisinya dengan madrasah Darunnajah di
Petukangan. Balai Pendidikan Darunnajah di Petukangan berkembang pesat
dan terkenal.

Tiga kali berturut-turut siswa dari Darunnajah Petukangan meraih juara
dalam MTQ yang diselenggarakan Al Azhar, sehingga tidak boleh
mengikuti lagi _musabaqah_ berikutnya. Demikian pula drumband dan
orkes Darunnajah juga sangat dikenal saat itu. Bahkan pada tahun 1964,
di Petukangan juga didirikan Tsanawiyah dan TK Darunnajah.

Madrasah di Petukangan lebih maju karena secara ekonomi masyarakat
Petukangan lebih makmur saat itu dibanding Ulujami. Lokasinya yang
dekat dengan Ciledug dan berada di pinggir jalan raya.

Sebetulnya usaha mendatangkan santri ke Ulujami sudah dicoba pada
tahun 1963-1965. Antara tahun 1963-1964, ada 9 santri mukim di
Petukangan. Mereka adalah murid Ibtidaiyah Darunnajah dan beberapa
murid SMP dari luar Darunnajah setiap sore hingga malam hari dibawa ke
Ulujami untuk belajar mengaji. Dibanding jumlah murid di Petukangan
yang sekitar 200 orang, jumlah santri di Ulujami memang sangat
sedikit.

Pada 1969 Mahrus Amin meminta izin memindahkan gedung Madrasah
Ibtidaiyah yang sudah dibangun di Ulujami pada 1962 ke Petukangan
untuk kegiatan belajar Madrasah Tsanawiyah Petukangan, Abdul Manaf tak
menolaknya. Saat itu, Abdul Manaf sangat merindukan pesantren
Darunnajah terwujud. Mahrus juga sudah terlihat memiliki kemampuan
mengelola madrasah di Petukangan dan bercita-cita membangun pondok
pesantren. Tak heran bila, Mahrus yang sudah menjadi anak menantunya
(menikah dengan putri pertama H. Abdul Manaf, Suniyati, pada 30
September 1965) menjadi kader kepercayaan karena bisa menerjemahkan
visi Abdul Manaf. Hal lain yang barangkali mendorongnya menyetujui
usulan itu adalah kondisi gedung madrasah di Ulujami yang karena tidak
digunakan, menjadi kurang terawat. Bahkan pernah suatu ketika gedung
madrasah ini roboh.

Sejak pertengahan 1960-an itu, Mahrus memang mendapat peran sentral di
Darunnajah. Kepengurusan YKMI yang tidak aktif diisi oleh Mahrus dan
kawan-kawan dengan tindakan nyata. Salah satunya dengan usaha
deklarasi pendirian pesantren di Petukangan pada peringatan Sewindu
Darunnah 30 Maret 1969 yang disaksikan oleh Dr. Mohammad Natsir,
Nurcholis Madjid, dan tokoh-tokoh masyarakat. Ketika itu Abdul Manaf
menjabat sebagai ketua umum YKMI.

http://darunnajah-cipining.com/biografi-pendiri-pondok-pesantren-darunnajah-k-h-abdul-manaf-mukhayyar/





Darunnajah Go Online

26 01 2012

Berita Pondok Pesantren Darunnajah Cipining:
January 25, 2012

Darunnajah Go Online

Pesantren Darunnajah memiliki tanggung jawab berdakwah mengajak ummat
menuju kehidupan yang baik. Untuk mencapai medan dakwah yang luas
secara efektif dan efisien, maka media dakwah harus melalui berbagai
macam sistem. Dakwah secara offline telah dilakukan secara optimal
melalui berbagai macam kegiatan praktik di lapangan. Kemudian dakwah
melalui jalur internet yaitu secara online, kini menjadi media yang
familiar di tengah-tengah masyarakat pada umumnya.

[1]Meskipun Darunnajah telah memulai online pada awal tahun 90an
dengan memiliki blog/website, namun pada kenyataannya dunia internet
telah menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Mau tidak mau,
dunia pesantren harus terus mengoptimalkan media ini dengan mengikuti
dan menerapkannya sebagai salah satu model dakwah di tengah kebebasan
manusia dalam berselancar di dunia cyber ini.
Dalam menambah pengetahuan dunia internet, di awal tahun 2012 ini,
Darunnajah mengasah SDM para adminstratur website pesantren sebagai
bekal mereka dalam maintenance. Kegiatan berbentuk training selama 2
hari (16-17/1) dan dimonotoring langsung oleh pakar internet marketing
dari Kota Malang, bernama Bapak Rinov Waludyantoro.
Sebagai alumni pesantren Gontor, Pak Rinov merasa sangat familiar
dengan peserta kegiatan yang terdiri 25 orang utusan Darunnajah Grup.
Sehingga, selama 2 hari menekuni dunia internet marketing para peserta
dan mentor dapat bersinergi dan berkomunikasi secara baik. Darunnajah
Cipining juga ikut terlibat dalam kegiatan tersebut dengan mengirimkan
3 utusannya, yaitu Ustadz Musthofa Zahir, Ustadz Muhammad Musta’in,
serta Ustadz Deni Rusman.
Alhamdulillah, materi yang diberikan cukup sesuai dengan kebutuhan
para administratur website. Begitulah kesimpulan para peserta usai
menunaikan tugasnya menjadi pioner dakwah dunia maya. Di akhir acara,
pimpinan pesantren Darunnajah, KH Sofyan Manaf berkesempatan
menyampaikan kata penutup sekaligus memberikan PR sebagai follow up
dari kegiatan yang telah dilakukan. (Wardan/Billah)

Links:
——
[1] http://darunnajah-cipining.com/wp-content/uploads/www.darunnajah-cipining.com_1.jpg

Sumber:
http://darunnajah-cipining.com/darunnajah-go-online/

Pondok Pesantren Darunnajah Cipining





Darunnajah

2 04 2011

Pondok Pesantren Darunnajah adalah lembaga pendidikan Islam swasta (non-pemerintah). Berdiri sebagai Pondok Pesantren pada tanggal 1 April 1974, diwakafkan oleh (Alm) KH. Abdul Manaf Mukhayyar, dan didirikan oleh KH Abdul Manaf Mukhayyar dan dua rekannya (Alm) KH Qomaruzzaman dan KH Mahrus Amin, dengan sistem kurikulum yang terpadu, pendidikan berasrama serta pengajaran bahasa Arab dan Inggris secara internsif.
Dengan didukung oleh lingkungan yang asri, Visi Pondok Pesantren Darunnajah Mencetak Manusia yang muttafaqoh fiddin untuk menjadi kader pemimpin ummat/bangsa, selalu mengupayakan terciptanya pendidikan santri yang memiliki jiwa ke ikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah dan kebebasan berprilaku atas dasar Al-Quran dan Sunnah Rosulullah SAW untuk meningkatkan taqwa kepada Allah SWT.
Sebagai jenis pesantren modern dari 25,768 Pondok Pesantren di Indonesia pada tahun 2010, santri Pondok Pesantren Darunnajah yang saat ini berjumlah 6,540 di pusat dan 14 cabangnya (530 hektar), mempunyai pikiran terbuka dan moderat, tanpa menghilangkan unsur peran Islam. Disiplin dan kesederhanaan, diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus.
Di Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami yang merupakan pusat dari 14 cabang, memiliki 3400 santri dan 2109 diantaranya bermukim di kampus seluas 5 hektar, Pengelolaan pendidikan dan pengajaran serta kegiatan santri sehari-hari dilaksanakan oleh para guru/ustadz dengan berlatar belakang pendidikan dari berbagai perguruan tinggi dan pesantren modern yang sebagian besar tinggal di asrama (210 guru di asrama), dan secara penuh mengawasi serta membimbing santri dalam proses kepengasuhan santri.
Untuk melanjutkan cita-cita para pendiri tersebut, lembaga ini telah mempersiapkan organisasi kelembagaan dibawah naungan Yayasan sejak tahun 1961, yang awalnya bernama YKMI (Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam) dan pada tahun 1986 diperbaharui nama dan pengurusannya sesuai dengan UU yang berlaku di Indonesia.
Darunnajah dengan keikhlasan dan idealisme para pendirinya, lembaga ini terus berkembanga hingga saat ini memiliki 54 lembaga di bawah Yayasan Darunnajah. Dengan usaha meningkatakan selalu mutu pendidikan, pembangunan fisik, pengembangan dana dan khizanatullah, mempersiapkan para kader untuk jangka panjang lembaga pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
DATA
PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH

A. Visi Yayasan Darunnajah
وماكان المؤمنون لينفروا كافّةً فلولا نفر من كلّ فرقةٍ منهم طا ئفةٌ ليتفقّهوا في الدّين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلّهم يحذرون (التوبة : 122)
Artinya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah : 122)

B. Misi Yayasan Darunnajah
Membangun manusia seutuhnya dan masyarakat Islam melalui pendidikan, kesehatan, dan sosial untuk mewujudkan manusia muslim, mukmin dan muhsin yang mempunyai jiwa kejuangan dan tanggung jawab kemasyarakatan.

C. Visi Pondok Pesantren Darunnajah
• Mencetak manusia yang muttafaqah fiddin untuk menjadi kader pemimpin umat/Bangsa.
• Mendidik kader-kader ummat dan bangsa; yang bertafaqqah fiddin, para ulama’, zuama’, dan aghniya’; cendikiawan muslim yang bertaqwa, berakhlaq mulia, berpengetahuan luas, jasmani yang sehat, terampil dan ulet.

D. Misi Pondok Pesantren Darunnajah
• Mencetak manusia yang; Beriman dan bertaqwa, Berakhlaq mulia, Berpengetahuan luas, Sehat dan kuat, Trampil dan ulet, Mandiri, Mampu Bersaing, Kritis, Problem solver, Jujur, Komunikatif dan Berjiwa juang.

• Merintis dan mempelopori berdirinya pondok pesantren di seluruh Indonesia sebagai lembaga sosial keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah.

Pondok Pesantren Darunnajah adalah pengembangan dari Madrasah Islamiyah yang didirikan pada tahun 1942 oleh K.H. Abdul Manaf di Petunduhan Palmerah Jakarta Pusat, beliau sebagai waqif tanah ini.
1. Didirikan oleh 3 orang: KH Abd Manaf (alm), Drs.H.Qomaruzzaman (alm) dan Drs.KH. Mahrus Amin
2. Lembaga ini diselenggarakan Yayasan Darunnajah yang dengan ketua yayasan H. Saifuddin Arief, S.H.,M.H dan dua pimpinan Pesantren Darunnajah Drs.K.H. Mahrus Amin dan Drs. H. Sofwan Manaf, M.Si, dan dibantu 549 tenaga ustadz, ustadzah, dosen, administratur dan karyawan
3. Pesantren Darunnajah I di Jakarta pada saat ini tengah mengasuh 3.131 santri yang berasal dari seluruh Indonesia dan negara sahabat pada tingkat pendidikan Kelompok Bermain sampai dengan Perguruan Tinggi.
4. Jumlah alumni Darunnajah I untuk semua tingkat unit pendidikan sebanyak 12.620 orang
5. Unit pendidikan Tarbiyatul Mu’allimin/Mu’allimat Al Islamiyah (setingkat SLTP-SMU) mendapat persamaan Departeman Pendidikan Nasional RI, Departemen Agama RI, Unversitas Al-Azhar Mesir, Universitas Ibnu Su’ud Riyadh Saudi Arabia, Universitas Islam Madinah, Universitas Umul Qura Makkah, Universitas Islam Internasional Islamabad, Universitas Antar Bangsa Malaysia, Universitas Al-Ain Uni Emirat Arab, dan Universitas Alighar India.

E. Prestasi
Beberapa prestasi Pesantren Darunnajah tahun 2006-2008:
a. Ujian Nasional Madrasah Aliyah, SMA dan Madrasah Tsanawiyah lulus 100 %
b. Jumlah santri baru melimpah, daya tampung hanya 658 anak, pendaftar sebanyak 943 anak, sehingga kelebihan 43 persen
c. Santri Darunnajah diterima di UGM, TTB, IPB dan IAIN Sunan Ampel atas beasiswa dari Departemen Agama
d. Sepuluh orang lulus seleksi masuk Ma’had Al Azhar dan Universitas Al Azhar Cairo
e. Pesantren Darunnajah menyelenggarakan Darunnajah Marching Band 5th Competition (DMC) di Istora Bung Karno Senayan bulan Februari 2007
f. Bersama Departemen Agama dan Kantor Menpora telah membidani lahirnya Pekan olah raga dan seni Pondok Pesantren tingkat Nasional
g. Bersama Departemen Agama dan Kwarnas Gerakan Pramuka, telah melahirkan kegiatan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara yang telah dilaksanakan di Cibubur pada bulan September 2006, pada tingkat nasional
h. Penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM, Koperasi Darunnajah sebagai Koperasi berprestasi, tahun 2007
i. Kampus Darunnajah juara lingkungan hidup se DKI Jakarta, 1983
j. Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah akan mendapat penghargaan melati dari Kwrnas atas prestasi di bidang kepramukaan

F. Kegiatan yang menonjol
1. Darunnajah Marching Band Competition (DMC) dilaksanakan di Senayan: peserta dari seluruh Indonesia, dihadiri pejabat tinggi negara, para oficial dari seluruh Indonesia, penonton dari Jabotabek
2. Pembukaan Pekan Olah raga seni dan Pramuka, dihadiri santri dan wali santri dari Jabotabek
3. Peragaan Manasik Haji, peserta dari TK/SD Pesanggrahan dan sekitarnya
4. Darunnajah Open (DNO), pertandingan olah raga antar pesantren Darunnajah dan sekolah sekitar.

G. Marchingband
1. Kegiatan drum band telah dilaksanakan di Pondok Pesantren Darunnajah sejak tahun 1974 dan dikembangkan menjadi marching band sejak tahun 1994
2. Marchingband merupakan kegiatan ekstra kulikuler untuk meningkatkan motivasi para santri dalam mengelola organisasi di lingkungan Pondok Pesantren
3. Darunnajah Marching Band (1st – 3rd) Competition (DMC) dilaksanakan di Tennis Indoor Bung Karno Senayan sedangkan Darunnajah Marching Band (4th & 5th) Competition (DMC) dilaksanakan di Istora Bung Karno Senayan

H. Pesantren Cabang
Pondok Pesantren Darunnajah mengelola pesantren-pesantren sebagai berikut:
a. Pondok Pesantren Darunnajah I di Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan, Kotamadya Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta
b. Pondok Pesantren Darunnajah II di Desa Cipining, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
c. Pondok Pesantren Darunnajah III Al-Mansur di Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten
d. Pondok Pesantren Darunnajah IV Tsurayya di Desa Citasuk, Kacamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten
e. Pondok Pesantren Darunnajah V An-Nahl di Desa Tanjungan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten
f. Pondok Pesantren Darunnajah VI Annakhil di Desa Pasar Bantal, Kecamatan, Pondok Suguh, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu
g. Pondok Pesantren Darunnajah VII Jaziratunnajah di Sei Banjar Desa Binusan, Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur
h. Pondok Pesantren Darunnajah VIII Annur di Desa Cidokom, Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
i. Pondok Pesantren Darunnajah IX Al Hasanah di Kampung Mangga, Kelurahan Pamulang Timur, Kecamatan Pamulang, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten
j. Lembaga Pendidikan Darunnajah X, di Jalan Haji Garie, Kelurahan Pesanggrahan, Kecamatan Pesanggrahan, Kotamadya Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta
k. Pondok Pesantren Darunnajah XI Al Barokah di Desa Babatan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu
l. Pondok Pesantren Darunnajah XII di Dumai Riau
m. Pondok Pesantren Darunnajah XIII, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Karang tengan, Kodya Tangerang .
n. Jumlah santri Darunnajah I s.d. Darunnajah XI sebanyak 6.791 ditambah guru dan administratur dan karyawan sebanyak 784 orang
o. Disamping itu pula, Darunnajah bekerjasama dengan 42 pondok pesantren di seluruh Indonesia dari Pesantren Babunnajah di Banda Aceh sampai Annajah di Merauke. Semua bernaung dibawah nama Darunnajah Group, Total santri 32.400 santri.
p. Darunnajah memberikan beasiswa/subsidi pendidikan kepada 1.467 yatim, yatim piatu dan dhuafa’.

I. Tamu Penting
a. Syeikh Ali Harakan, Sekjen Rabithah Alam Islami, 5 September 1980 dan 14 Desember 1982
b. Dato’ Mohamad Nur, Yang Mulia Menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia, 23 Januari 1988
c. Syeikh Abdul Wa¬hab Ahmad Abdul Wasi’, Menteri Wakaf dan Urusan Haji, Saudi Arabia, 14 Februari 1988
d. Paul Waolfowith (Mantan Penasehat Keamanan Nasional) dan William Lowrey (Duta Besar) Amerika Serikat, 14 April 1988
e. Dr. Abdul Aziz Al Khayyat, Menteri Wakaf dan Urusan Agama Islam, Kerajaan Yordania, 5 Oktober 1989
f. Konraad Specker, Phd. (Staf Kementerian Luar Negeri Swiss) dan Hover Walters (Koordinator Swiss Development Corporation), 13 November 1991
g. Syeikh Ibrahim, Imam Besar Masjid Nabawi, 17 November 1993
h. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Menteri Wakaf Mesir, 1 November 1997
i. Abdullah Al Khudzair, Staf Ahli menteri Wakaf, Dakwqah, dan Irsyad, Saudi Arabia, 1 Juli 1999
j. Dr. Su’ud bin Ibrahim bin Muhammad Syuraim, imam/khatib Masjidil Haram Makkah, 1 Januari 2002
k. Yutaka Iimura, Duta Besar Negara Jepang, 3 Februari 2003
l. Dr. Ahmad Thayyib, Rektor Universitas Al Azhar Cairo
m. Dr. Edilberto C. De Jesus, Secretary of Education Philiphines, 14 Januari 2004
n. Perdana Menteri Inggris H.E. Tony Blair, 30 Maret 2006
o. Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dari Qatar, 10 Januari 2007
p. Tokoh Islam Indonesia dan Inggris yang tergabung dalam Islamic Advisory Group (IAG)
q. Staf Menteri Pendidikan dan Gubernur Minia, Repubik Arab Mesir, 24 Agustus 2007
r. Mantan Perdana Menteri Timor Leste, Mari Alkatiri, 20 Juli 2008
s. Mr. Gregg Rickman, utusan khusu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, 27 Juli 2008
t. Adum Demit, Malaysia, 30 orang, 2 Agustus 2008
u. Kunjungan Presidential Friends of Indonesia, 30 tokoh dari 27 negara, 16 Agustus 2008
v. Ulama Ethiopia, tamu BKKBN RI, 28 Oktober 2008.

J. Tamu-tamu penting Nasional:
a. K.H. Imam Zarkasyi, Pimpinan Pondok Modern Gontor, 26 Juli 1976 dan 11 Maret 1982
b. Alamsjah Ratuperwiranegara, Menteri Agama, 17 Juni 1978
c. DPR-RI komisi IX, 5 Feb 1981
d. Wakil Presiden RI, Haji Haji Adam Malik, 22 Okt 1982
e. Menpora Ir. Akbar Tanjung, 29 Juli 1988
f. Ibu Wapres, E.N. Soedharmono, 25 Feb 1989
g. Menteri Perhubungan RI, Ir.H. Azwar Anas 28 Juli 1991
h. Da’i Sejuta Umat, K.H. Zainuddin M.Z., 8 Januari 1994
i. Menteri Agama RI, dr. H Tarmizi Taher, 15 Agust 1997
j. Kassospol ABRI, Letjen TNI Yunus Yospiah, , 31 Okt 1997
k. Direktur Perguruan Tinggi Depag RI, Dr.H. Husni Rahim, , 26 Juli 1998
l. Ketua Majlis Ulama Indonesia, Prof.K.H. Ali Yafie, 23 Feb 1999
m. Ibu Hasrie Ainun Habibie (istri Presiden RI), H.R. Agung Laksono (Menpora RI), Dra.Hj. Tuty Alawiyah (Menperta RI), Ibu Anfasa Moeloek (istri Menkes RI), 25 Sept 1999
n. Wakil Presiden RI, H. Hamzah Haz, 11 Oktober 2002
o. Wakil Ketua DPR-RI, Drs.H. Tosari Wijaya,
p. Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI, Rini M. Sumarno Soewandi
q. Ketua PB NU, K.H. Hasyim Muzadi, 10 Juili 2006
r. Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Dr. Jimly Assidiqi, 11 Juli 2006
s. Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Teringgal, H. Saifullah Yusuf, 11 Juli 2006
t. Ketua MPR RI, DR. Hidayat Nurwahid, MA., 4 Maret 2007 di Darunnajah I, 18 Mei di Darunnajah XI, 5 Juli di Darunnajah III
u. Sekretaris Jenderal Kwarnas Gerakan Pramuka, Dr. Joedyaningsing SW., M.Sc., 3 Agustus 2006
v. Wakil ketua bidang Diklat dan Pembinaan Kwarnas, Drs.H. Endi R. Atmasulistiya, 28 Juli 2007
w. Wakil Wakil Presiden Republik Indonesia, H. Jusuf Kalla, 5 Agustus 2007
x. Menteri Perumahan Rakyat RI, H. Muhammad Yusuf Asy’ari, 25 Mei 2008
y. Menteri Koperasi dan UKM RI, Drs.H. Suryadharma Ali, M.Si. di Darunnajah II Bogor, Juni 2008
z. Dr.dr. Azrul Azwar, Ka Kwarnas, 20 Juli 2008
å. Menteri Kesehatan RI, Dr.dr. Fadilah Supari, 3 Agustus 2008.